KMNU IPB

Bangkitlah NU Ku, Hijaulah Kampus Ku, Sejahterahlah Bangsa Ku

Majlis Sholawat Maulid Ad-Diba'i KMNU IPB

Majlis Sholawat Maulid Ad-Diba'i merupakan kegitan rutinan "untuk UMUM" setiap sabtu malam yang diadakan setelah sholat Isya' di Musholla Al-Ikhlas dan khusus sabtu malam diawal bulan diadakan di Masjid Al-Wustho Babakan Tengah. Cp : Ersyad (085641055065)

Tim Hadroh KMNU IPB

Tim Hadroh ini dibentuk sebagai rasa cinta untuk bershalawat atas baginda Rosul SAW dan melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah yang mulai terkikis. untuk itu Tim Hadroh KMNU IPB dapat diundang dan tampil untuk memeriahkan disetiap kegiatan keagamaan maupun non-keagamaan baik pengajian maupun seminar dilingkunga IPB dan Bogor. Cp: Hasan (085740955532)

Wasiat K.H.R As'ad Syamsul Arifin

Mari kita berpegang teguh kepada para ulama dan melakukan apa yang diwasiatkan

Syair Cinta Tanah Air (Mars Syubbanul Wathan)

Syair penggugah semangat untuk berjuang dan cinta Tanah Air

Jumat, 15 Agustus 2014

Wisata Religi dan HBH KMNU IPB Regional Daerah 2014

KMNU IPB Regional Jawa Timur dan Jawa Tengah pada tanggal 3-6 Agustus 2014 telah mengadakan acara wisata religi dan halal bi halal regional. Acara tersebut merupakan acara rutin tahunan yang diadakan saat libur semester, bertujuan untuk merperkokoh hubungan internal anggota antar daerah, serta memperluas wawasan dan hubungan eksernal dengan para ulama dan tokoh NU diluar kampus.


Di Jawa Tengah, acara diadakan pada tanggal 3-4 Agustus 2014.  Pada hari pertama bersilaturrhami ke komplek Ponpes Raudhltul Tholibin, Rembang dengan sowan ke kediaman KH.Musthofa Bisri (Gus Mus), Gus Yahya dan Gus Adib. Di Gus Mus KMNU IPB meminta doa untuk kebaikan KMNU IPB dan bersama. Kemudian di kediaman Gus Yahya, beliau memberikan wejangan bagi KMNU IPB untuk memperluas jaringan (network) antar perguruan tinggi. Di kediaman Gus Adib, beliau lebih memberikan strategi dakwah untuk lebih mempopulerkan NU di kampus.

Hari kedua dilanjut silaturrahmi ke KH.Maimun Zubair, Sarang, jawa Tengah. Silaturrahmi tersebut selain ditujukan unuk mempererat tali persaudaraan sekaligus bentuk takdim kepada para guru dan tokoh-tokoh NU. Agar ilmu, do’a, dan keberkahan terus mengalir. Pada kesempatan ini, KMNU IPB melakukan perjalanan bersama teman-teman dari STAN dan alumni Roudlatul Tholibin.

Di Jawa Timur, acara dilaksanakan pada tanggal 4-6 Agustus 2014 dengan kota tujuan Lamongan, Surabaya dan Malang. Hari pertama bertempat di kota bahari, Lamongan, rombongan transit terlebih dahulu di rumah mantan ketua KMNU tahun 2012 M.Zimamul Adli. Kemudian dilanjut berwisata religi dengan berziarah ke makam para wali dan masyaikh antara lain makam Sunan Drajat, Sunan Sendhang, dan Syeikh Maulana Ishaq. Menjelang malam, rombongan disambut hidangan khas lebaran dan Lamongan sembari berdiskusi singkat tentang skema pengkaderan di rumah salah satu Staf divisi PSDM, Hamdan Ubaidillah.

Hari kedua, rombongan dari Lamongan berhijrah ke Surabaya dengan tujuan Kantor PCNU Surabaya.  Di Kantor PCNU disambut oleh ustadz Ma’ruf, Ustadz taufik, dan Gus Udin (Cucu KH.Ridwan). Setelah beramah-tamah dengan guyonan khas NU, Gus Udin menceritakan sejarah berdirinya NU versi asli KH.Ridwan yang berawal dari 4 tokoh masyhur, yakni KH.Ridwan, KH.Mas ‘Alwi, KH.Wahab Hasbullah, dan KH.Mas Mansyur.  Menjelang siang, rombongan berziarah ke makam para tokoh tersebut, antara lain KH.Mas ‘Alwi dan KH.Ridwan. Kemudian diakhiri dengan diskusi lanjutan, berisi nasehat untuk para pemuda dalam menjaga dan memperjuangkan NU di Kampus dan Masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Taufiq menegaskan bahwa untuk memahami NU tidak cukup belajar dari buku, melainkan harus terlibat langsung dan mencari dari para tokohnya. Gus Udin menambahkan bahwa ada 3 syarat untuk para pengurus NU, yakni ikhlas, amanah dan kober (Sempat). Dan terakhir, ustadz Ma’ruf berpesan jangan hanya urip (Hidup) di NU, tapi urip-uripilah (Hidupkanlah) NU. Acara ditutup setelah sholat ashar berjamaah.


Hari Ketiga, Sebagian rombongan melanjutkan perjalanan ke Malang untuk bersilaturrahmi dengan alumni dan sowan ke kediaman KH.Muchit Muzadi.

Perjalanan dari para kader muda NU ini akan terus berlanjut untuk mendapatkan pelajaran dan pengalaman langsung dalam kehidupan NU, mengumpulkan sepenggal-penggal sejarah, ilmu dan wawasan untuk disusun menjadi satu rangkaian peristiwa. Semoga perjalanan ini menginspirasi dan memotifiasi para kader muda NU lain di nusantara, dan bermanfaat bagi kita semua Amiin.

Kontributor : Lum'atul

Jumat, 18 Juli 2014

Ramadhan Berbagi : Santunan Anak Yatim dan Buka Bersama KMNU IPB


Bulan ramadhan merupakan bulan penuh ampunan dan rahmat dimana pahala-pahala ibadah dilipat gandakan oleh Allah SWT. Tak hanya itu,  bonus-bonus ibadah pun berlimpah baik ibadah wajib maupun sunnah. Tentu hal ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan tabungan amal kita untuk bekal kelak. Tak heran jika saudara-sauadara kita  berlomba-lomba mendapatkan bonus tersebut. Begitu pula  yang dilakukan oleh sebuah organisasi kecil namun luar biasa yang berada di tengah-tengah kampus yang besar nan indah ini. Ya, sebut saja Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama atau lebih dikenal dengan KMNU IPB. Keluarga yang tidak pernah luput semangat dalam kesehariannya, yang selalu nyaring dengan sholawatnya tak ingin ketinggalan mendapat pahala dan bonus di bulan berkah ini. Dengan niat menolong sesama,  berbagi kecerian, dan lillahi ta’ala, KMNU IPB mengadakan sebuah acara yang jika dinilai insyaAllah mendapat bonus yang banyak dari Allah SWT, Aamiin.. 

Kegiatan tersebut berupa santunan terhadap anak-anak  yatim yang berada di sekitar sekretariat KMNU IPB yang terletak tak jauh dari kampus, yaitu desa Cangkurawok, Dramaga, Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari ke-14 ramadhan tepatnya hari sabtu, 12 juli 2014 pada pukul 16.00-19.00 WIB, di masjid Syamsul Huda Cangkurawok. Adapun rangkaian acara yang melibatkan 31 anak yatim ini dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh MC : Ibnu Mubarok, yang kemudian dilanjut dengan tahlil yang dipimpin oleh ta’mir masjid yaitu almukarrom bapak Muchtadin. Ketua pelaksana acara ini , Muhammad Fatah Yasin, lantas memberikan sambutan singkat yang insyaAllah penuh manfaat, dimana dalam sambutannya berisi bahwa  acara ini bertujuan untuk berbagi kebahagiaan di bulan suci ramadhan bersama anak yatim dan masyarakat sekitar yang mudah-mudahan mendapat ridho Allah. Selain itu sang ketua pelaksana juga memperkenalkan kakak-kakak asuh bagi anak-anak yatim dan memberi pesan kepada kakak-kakak asuh agar dapat membimbing adik-adiknya juga agar dapat saling mengenal antara kakak asuh dan adik asuh maupun sesama adik asuh. Adanya pembagian kakak asuh dan adik asuh ini dikarenakan kegiatan ini akan dilanjutkan dengan pembimbingan dan pembinaan terhadap anak-anak yatim tersebut dalam hal pengabdian masyarakat. 

Setelah sambutan dari ketua pelaksana, anak-anak diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan kakak asuhnya masing-masing dengan tujuan untuk dapat mengenal dan berbagi cerita. Hampir semua anak-anak tersebut antusias untuk berkumpul bersama kakak asuh mereka. Sambil menunggu adzan magrib adik-adik asuh dibawa ke dalam suasana yang riang gembira oleh seorang pemandu game yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Sebut saja Jayat, salah satu anggota KMNU yang humoris dan puitis tapi kurang romantis. Dengan serunya dia mengajak adik-adik untuk dapat mengingat pelajaran-pelajaran yang telah didapat. Siapa yang dapat menjawab pertanyaannya dan berani maju ke depan maka  anak tersebut berhak menerima hadiah darinya. Adapun pertanyaannya berupa bacaan surat al-ikhlas, do’a kepada orang tua, sholawat, dan lain-lain. Suasana pun berubah menjadi riang dan anak-anak pun sangat antusias menjawab pertanyaan demi pertanyaan hingga 5 hadiah yang disediakan pun habis. 

Tibalah saat berbuka, anak-anak yatim, anggota KMNU,dan masyarakat sekitar berbuka bersama di masjid dengan ta’jil yang telah disediakan. Setelah itu dilanjutkan dengan shalat berjamaah magrib. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Di akhir acara, KMNU membagikan santunan kepada anak-anak yatim  yang insyaAllah santunan tersebut bermanfaat bagi mereka. Bacaan sholawat pun mengiringi anggota KMNU dan anak-anak yatim yang bersalaman sebagai tanda berakhirnya  acara  yang bertemakan “Ramadahan Berbagi” ini . Kebahagiaan pun nampak dari wajah anak-anak  yang insyaAllah masih bersih dari dosa ini. Semoga kebahagiaan ini sebagai simbol kebahagiaan yang akan kita dapat di yaumul akhir nanti, aamiin.. 

Terimakasih tak luput kami haturkan kepada para pembina KMNU yang telah mendukung acara ini baik dengan do’a maupun materi, kepada masyarakat yang ikut berpartisipasi, juga kepada seluruh anggota KMNU yang rela dan tulus menjalankan acara ini. Semoga niat tulus kita diterima dan mendapat ridho serta pahala dari Allah SWT. Aamiin yaa Robbal’aalamiin...  

Kontributor : Siti Rosidah

Rabu, 09 Juli 2014

Sebuah Pembelajaran Demokrasi

Terlepas dari hasil pemilu nanti setidaknya bangsa ini mendapatkan pembelajaran politik yang berharga. Bagaimana tidak, hampir tidak ada kasus keributan signifikan karena proses pemilu ini. Apresiasi musti diberikan utamanya kepada rakyat Indonesia yang telah melalui proses demokrasi ini dengan baik.

Bolehlah kita sebut maraknya kampanye hitam (black campaign) yang saya rasa menjadi bumbu tak sedap dalam proses demokrasi kita. Mengapa? Bagi saya menguliti kesalahan orang di masa lalu atau mempertanyakan kualitas agama seseorang bukanlah bagian dari budaya arif bangsa kita. Black campaign marak dalam proses politik di negeri lain, bukan merupakan akar sejarah bangsa ini. Sangat disayangkan bahwa sebagian orang menggunakannya dalam rangka mencapai tujuan kekuasaan.

Terlebih sebagai seorang muslim, menyebarkan berita tentang keburukan seseorang, bilamana benar adalah ghibah bilamana salah adalah fitnah, jelas bukanlah sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Disadari atau tidak sedikit banyak kita telah meniru cara berpolitik yang tidak hanya bukan merupakan ciri khas bangsa tetapi juga melenceng dari ajaran Rasulullah SAW. Saya merindukan masyarakat Indonesia yang toleran, saling menghormati perbedaan, santun, adil dan objektif dalam menilai sesuatu. Adakah semua itu pernah dan akan menjadi nyata? Atau itu hanya bahan ajaran yang tertulis dalam buku-buku mapel PPKn yang diajarkan dari SD sampai kuliah?

Apapun hasilnya nanti, siapapun pemimpinnya, beban amanah seluruh rakyat, entah itu pemilihnya atau bukan, akan diletakkan di pundaknya. Mampukah pemimpin baru itu mengemban amanah 250 juta jiwa bangsa Indonesia? Tiada manusia satu pun yang sanggup memikul beban itu sendirian. Maka sudah sepantasnya kita sebagai rakyat, mengawal proses demokrasi ini, mendukung pemimpin kita bila apa yang hendak ia kerjakan itu memberi lebih banyak manfaat dan memberikan masukan dan peringatan sekiranya ia melenceng dari amanahnya. Maka dengan mengucap lafal بسم الله الرحمن الرحيم mari kita sambut pemimpin kita yang baru nantinya. Selamat untuk bangsa Indonesia,.

Kontributor : Firdaus Hamdani

Selasa, 08 Juli 2014

Kegilaan-KU tiada pernah sempurna


Mungkin sudah menjadi rutinitas bahkan tradisi dikalangan santri dan warga Nahdliyyin akan istilah “bersholawat”. Bait-bait syair sholawat yang mengandung butir-butir mutiara yang sangat indah. Diantara karya sastra yang sangat masyhur adalah Syair-syair Burdah, karya besar Abu Abdillah Muhammad Said Al-Busairy dengan judul kitab Hasyiyah Bajuri ala Matnil Burdah.

Segala puji bagi Allah SWT dan Sholawat serta salam berlimpah keharibaan Nabi Muhammad SAW, seorang hamba yang mempunyai berbagai kesempurnaan dan keistimewaan.  Bahkan syaikh Al-Bajuri Ibrahim berkata : “ketahuilah! Seberapa banyak pun puji sanjungan yang dilantunkan ahli-ahli syair terhadap Nabi Muhammad SAW. Tidaklah pernah mencapai kesempurnaan. Karena kesempurnaan Rasulullah SAW tiada terhitung jumlah kemuliaannya.”

Begitu banyak dan dahsyatnya sanjungan terhadap Rasulullah SAW, andaikata dihimpun dan dikumpulkan menjadi satu, jutaan bahkan ribuan syair lalu digunakan untuk menghitung perangai dan kemuliaan Nabi maka tak ada seorang pun yang mampu merinci, sanjungan dan pujian dari Allah SWT.

Syair mengatakan, “ Aku melihat setiap sanjungan untuk Nabi tiada pernah mencapai sisi kesempurnaan. Walaupun orang yang memuji itu berlebihan dab begitu banyak penyanjung beliau (Rasulullah)  karena Allah Swt telah memuji beliau dengan pujian yang sepatutnya. Maka apalah artinya pujian makhluk dibandingkan dengan pujian Sang Khaliq.” Bahkan ahli balaghah mengatakan bahwa mereka (para penyair) hanya sebagian kecil dari sekian banyak Kemuliaan.  Kenapa kita bersholawat dan melantunkan syair-syair pujian kepada Rasulullah? Ahli sastra memandang bahwa pujian dan sanjungan kepada baginda Rasulullah merupakan sebesar-besarnya Taqarrub dan perbuatan taat. Demi bergantung kepada pribadinya yang mulia dan mengambil berkah dengan berkhidmat pada keagungan Beliau baginda Rasul Saw. Sehingga para ahli sastra, ahli balaghah, dan para penyair banyak menyusun syair-syair pujian yang indah untuk beliau Rasul Saw.

          Syekh Syarifuddin Abu Abdillah Muhammad bin Said Al-Busairi menyusun bait syair dengan kemasan emas kuning dan dirangkainya laksana untaian mutiara dan permata yang disebut Qashidah Burdah. Alkisah, pada saat beliau menyusun nazam/ bait-bait syair beliau sedang menderita lumpuh. Kelumpuhan beliau bahkan menyerang hampir separoh dari anggota tubuh. Bahkan para tabib atau dokter sudah menyerah dan tidak sanggup lagi mengobati penyakit beliau. Pada suatu malam beliau bermimpi berjumpa Rasulullah Saw dalam mimpi Rasul mengusapkan tanganya  nan yang mulia pada bagian tubuh Al-Busairi yang sakit, maka penyakit beliau dengan izin Allah Swt sembuh.

    Dari kisah tersebut sebagian ulama mengatakan bahwa syair Burdah lebih sesuai dinamakan qashidah  “Bara-ah” karena pengarangnya bebas dari penyakit, lantaran qashidah tersebut. Syair beliau dimulai dengan bait yang berisi pujian kepada Allah Swt dan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.
“Segala puji bagi Allah yang menciptakan Makhluk dari tiada, Sholawat bagi Rasulullah yang telah ada sebelum alam ini ada” Ada satu bait syair yang sangat indah saat penulis (Al-Busairi) melarang dirinya berputus asa dan berkata bahwa beliau tiada pernah berputus asa namun takut terputus dari RahmatNya lantaran dosa yang diperbuat. “Semoga Rahmat Tuhanku saat dibagikan, terbagi rata atas orang orang bergelimang maksiat perbuatannya , Wahai Tuhan. . .  jadikanlah harapanku kepadaMu tiada tertolak di sisi-Mu, dan jadikanlah tak terobek hisab amalku nanti.”

Wallahu a’lam

Kontributor : Ahmad Nur Hijayat

Minggu, 06 Juli 2014

Niat Puasa “Ramadhana” atau “Ramadhani”?

Bulan Ramadahan adalah bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh umat islam di dunia ini. Kebiasaan yang berlaku di antara kita setelah shalat tarawih imam membacakan niat puasa lalu makmum mengikutinya. Ulama’ kita sangat ber-ihtiyath mengenai niat berpuasa yaitu dilakukan setelah sholat tarawih karena niat puasa itu harus dimalamkan jika tidak dimalamkan maka niatnya tidak sah. Namun terkadang ada perbedaan dalam pelafalan niat puasa yaitu “Ramadhana” dan “Ramadhani”. Nah bagaimana pembahasan mengenai pelafalan tersebut mari kita bahas.
نَوَيْتُ صَوْمَ  غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَان هذِهِ السَّنَة لله تَعَالَى
“Saya berniat puasa besok untuk mendatangi wajibnya bulan ramadhan pada tahun ini karena Allah ta’ala”
Indentifikasi lafad “رَمَضَان” :
Lafad “Ramadhan” termasuk isim ghoiru munshorif karena kemasukan “alif -nun” dan isim alam. Cara peng-i’roban-nya terdapat dalam bait alfiyah berikut :
وجر بالفتحة مالم ينصرف # مالم يضف او يك بعد ال ردف
isim ghoir munshorif ketika jer bertanda fathah itu apabila tidak kemasukan al atau di mudhofkan.Tetapi bila kemasukan al atau dimudhofkan maka jernya dengan kasroh” 
Pembahasan “Ramadhana” atau “Ramadhani”
a. Jika dibaca Ramadhani :
Saat lafad Ramadhan dibaca “Ramadhani” maka kedudukan dari lafad tersebut menjadi mudhof ilaih dari lafad “syhar” sedangkan mudhof ilaih itu hukumnya majrur  tanda jer-nya kasroh. Lafad ramadhan dimudhofkan lagi dengan lafad setelahnya yaitu “Hadzihi”. Timbul pertanyaan, mengapa lafad “ramadhan” dibaca kasroh padahal dia adalah isim ghoiru munshorif ? jawabannya : isim ghoiru munshorif ketika jer bertanda fathah itu apabila tidak kemasukan al atau dimudhofkan. Sedangkan pada lafad niat puasa ramadhan tersebut kedudukan dari lafad “ramadhan” adalah dimudhofkan berarti tanda jernya kasroh. Secara peng-i’roban tidak ada masalah, artinya benar. Secara pelafalan berarti saat dibaca “Ramadhani” seharusnya dilanjutkan dengan lafad “hadzihissanati”.
نَوَيْتُ صَوْمَ  غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لله تَعَالَى
Peng-i’roban diatas senada dalam kitab al-Baijuri :

 قوله : )رمضان هذه السنة ) باضافة رمضان الى اسم الاشارة لتكون الاضافة معينة لكونه رمضان هذه السنة
البيجورى ١/٤٣٠
“Perkataan mushonif “Ramadhani hadzihissanati” mengidhofahkan lafad ramdhan dengan isim isyaroh sapaya menjadi idhofah yang mu’ayyanah (khusus)” (al-Bajuri juz 1 hlm. 430

b Jika dibaca Ramadhana :
Ketika lafad Ramadhan dibaca “Ramadhana” maka kedudukan dari lafad tersebut menjadi mudhof ilaih dari lafad “syhar” sedangkan mudhof ilaih itu hukumnya majrur  tanda jer-nya kasroh. Pembahasan sampai sini sama seperti pembahasan saat dibaca “Ramadhana”. Namun setelah ini berbeda, saat dibaca “Ramadhana” lafad ramadhan tidak dimudhofkan lagi dengan lafad selanjutnya. Tetapi lafad “hafzihi” kedudukannya menjadi “dhorof” sedangkan dhorof  hukumnya dibaca nasab maka dibaca “Hadzihissanata”.  Mengapa lafad “sanah” dibaca “sanata” karena kedudukannya menjadi badal atau ‘athaf bayan. Keduanya peng’irobanya mengikuti lafad yang diikuti. Maka pelafalan lafad ramadhan tidak harus diteruskan dengan lafad setelahnya.
نَوَيْتُ صَوْمَ  غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةَ لله تَعَالَى
Secara pengi’roban keduanya benar.Wallahu a’lam bisshowab
(Hamzah_Alf)

Minggu, 29 Juni 2014

Rektor IPB, Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto Ikut Bersholawat Bersama di Stand OH KMNU IPB

Alhamdulillah syukur tiada pernah terputus kepada Allah Swt yang telah memberikan banyak cerita dan kisah dalam perjalanan hidup ini. Hari dimana kepala masih terasa berat tuk me-running segala aktifitas di hari ini. Mentari menari di keindahan waktu dhuha memberi isyarat akan kehadiran mahasiswa baru Institut Pertanian Bogor angkatan 51 “kreator Peradaban.” Rutinitas setiap tahunnya apabila mahasiswa baru datang di Institut Pertanian Bogor ada serangkaian kegiatan bernama Open House dimana seluruh UKM (Unit Kegiatan kampus), LK (Lembaga Kemahasiswaan) seperti MPM, DPM , BEM, danHimpro (Himpunan Profesi),  LS (Lembaga Struktural), bahkan organisasi Ekstra kampus seperti KMNU, KAMMI, HMI, dan lain-lain. Serta OMDA (Organisasi Mahasiswa Daerah) memberikan informasi dan rekruitmen anggota baru, dengan berkunjung dari satu stand ke stand yang lainnya. Dan rmasing-masing memiliki ciri khas dan karakteristik yang unik.

Dalam stand KMNU-IPB (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Institut Pertanian Bogor) selain terdapat kitab-kitab kuning seperti Fathul qarib, maulid dibaiyyah, tahlil, dan ihya’ ulumuddin, KMNU juga menampilkan seni islami yang mengiringi lantunan syair  sholawat yaitu rebana atau hadrah. Syair Ahlan wa marhaban dan qasidah Tholaal sebagai ucapan selamat datang saat mahasiswa baru mengunjungi stand KMNU IPB sehingga hal seperti dapat memberikan kenyamanan dan wujud penghormatan KMNU-IPB dalam menerima tamu. Bahkan saat Al-mukarram Bapak Rektor Institut Pertanian Bogor  Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc berkunjung di stand KMNU IPB beliau bersholawat bareng dengan mahasiswa baru dan teman-temadn KMNU-IPB yang berada di stand dengan diiringi hadrah atau rebana.

KMNU-IPB hadir dengan ciri khas yang unik dimana “ tetap melestarikan tradisi yang diamalkan oleh para ulama-ulama salaf  (salaf maksudnya terdahulu),”  seolah turut mewarnai atmosfer kampus dengan karakteristik tersebut. Beberapa kegiatan KMNU-IPB tetap menjaga tradisi seperti tahlilan, istighosah, ziarah kubur, diba’an atau sholawatan, khotmil quran dan kajian kitab kuning.  Beberapa kegiatan dikalangan mahasiswa disebut “event” seperti Festival Rebana, Tablig Akbar, dan Kajian Kontemporer selalu di agendakan insyaallah setiap tahun oleh KMNU-IPB.  Ada juga beberapa club di KMNU-IPB diantaranya Club bahasa arab, tahsin, hadrah, kewirausahaan, dan club ke-organisasian.  Secercah harapan baru menuju KMNU IPB yang lebih bermanfaat bagi kita semua, agama, bahkan Nusa bangsa. Seiring hadirnya bulan suci Ramadhan semoga ini menjadi langkah awal dalam mempererat tali silaturrahim dan ukhuwah islamiyah menyongsong kemenangan Ramadhal dengan beramal sholih. Allahumma sholli ala sayyidinaa muhammad wa sallim wa baarik alaih “Ya Allah , curahkanlah tambahan rahmat kepada junjungan kami nabi muhammad, kehormatan, dan keberkahan” 

                        Bangkitlah NU-ku, Hijaulah kampus ku, Sejahteralah Bangsaku 

Kontributor : Hasan Bisri


Sabtu, 28 Juni 2014

Penyambutan Mahasiswa Baru angkatan 51 NU IPB oleh KMNU IPB


Bersamaan dengan masuknya mahasiswa baru di kampus IPB, KMNU IPB mengadakan serangkaian agenda guna menyambut mahasiswa baru angkatan 51 sekaligus menyambut datangnya bulan Ramadhan. Hari ini (17/6), diadakan “saresehan dan ramah ramah KMNU IPB” bersama mahasiswa baru angkatan 51 dari berbagai daerah di pulau Jawa yang berlatarbelakang ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyyah. Kegiatan ini diadakan di sekretariat KMNU IPB dnegan menghadirkan pemateri Steering Commitee KMNU IPB bidang pengkaderan Muhammad Zimamul Adli serta Ketua KMNU periode 2014/2015 Ahmad Mujib. Keduanya menyampaikan materi tentang pengenalan dunia kampus dan pengenalan KMNU IPB.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan keberagaman ekspresi beragama dalam dunia kampus sehingga nantinya para mahasiswa baru tidak merasa bingung dan minder untuk menunjukkan jati diri seorang nahdliyyin. Kegiatan ini juga sekaligus menjadi sarana perekrutan awal anggota KMNU IPB. Para mahasiswa yang baru memasuki dunia kampus biasanya merasa bingung dalam menyikapi perebedaan-perbedaan ekspresi beragama di kampus sehingga  timbul sikap acuh, minder, bahkan menjadi sangat tidak toleran terhadap perbedaan-perbedaan tersebut. Selain itu, banyak juga diharapkan dengan adanya kegiatan ini nantinya muncul calon kader-kader miltan KMNU yang akan merintis dan mewarnai kehidupan kampus terutama kehidupan asrama yang notabene didominasi oleh kelompok tertentu sehingga menjadi lebih bernafaskan aswaja guna mewujudkan Kampus IPB-NU.
Kegiatan “saresehan dan ramah tamah KMNU IPB” sekaligus mengenalkan keberadaan KMNU di kampus IPB sehingga mahasiswa baru yang berlatarbelakang ahlussunnah wal jama’ah an-nahdliyyah mempunyai wadah dan keluarga yang seaqidah. Harapannya KMNU IPB dapat menjadi wadah bagi mahasiswa baru untuk berkumpul, mengembangkan potensi serta melestarikan tradisi amaliyah yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW yang diwariskan pada para ulama
Kegiatan ini juga dihadiri para orang tua wali mahasiswa baru serta berlangsung interaktif dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari beberapa mahasiswa etrakain menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Acara ditutup dengan hikmad dengan dibacakannya sholawat Burdah yang menjadi penutup yang khas dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh KMNU IPB.
“menyikapi perbedaan bukan dengan menentangnya mentah-mentah namun dengan menunjukkan bahwa yang berbeda akan terasa menyejukkan ketika dapat beriringan melangkah tanpa menyudutkan satu sama lain, tanpa mencederai hak-hak orang lain.”

Kontributor : Nur Afifah

Menjadi Hamba Allah (saja) atau Sekalian Tentara Allah

           
    Berbeda dari beberapa tahun yang lalu dimana di buku-buku yang ada kita masih sering membaca tulisan “hamba Allah”, akhir-akhir ini kata “tentara Allah” rasanya lebih sering terdengar di telinga kita. Elisa, alumni KMNU IPB yang ditemui ketika pertemuan alumni KMNU IPB menyampaikan bahwa antara “hamba Allah” dan “tentara Allah” memang di KMNU lebih terbiasa menggunakan istilah “hamba Allah”, namun di antara kedua  status – jika bisa disebut status – tersebut ada status lain yang selalu KMNU perjuangkan.
                “Yaa, di buku shares vision kita ingin beberengan menuju ‘khalifatullah’, yang lebih baik daripada hamba Allah. Nah, kita (KMNU) gak familiar dengan istilah tentara Allah. Menurutku tentara hanya pasukan, menerima tugas dan perintah. Kalau kholifatulloh kan mereka berfikir dengan cara yang luas bijak, dan punya sikap.” Jelas Elisa.
             Daus, ketua Alumni KMNU IPB menjelaskan bahwa sekarang telah terjadi penyempitan makna tentara. “Aku rasa kalau dari kalimat jundullah sebenarnya artinya juga bagus. Jadi tergantung konteksnya juga. Dan kalau kita merasa selama ini berjuang untuk menegakkan agama Allah, apakah kita gak mau kalau mengakui kita jundullah?”
                Mengacu pada pernyataan KH Abdul Muchith Muzadi, dalam menjalani kehidupan tak ubahnya sebuah lakon dalam pewayangan, yang membuat lakon ya Allah SWT. Sehingga ada tiga prinsip yang harus kita pegang. Prinsip pertama adalah doa, sebagai khalifatullah fil ardh manusia harus mempunyai keinginan yang perlu diwujudkan dan hanya kepada  Allah manusia meminta. Prinsip kedua adalah ikhtiar, berusaha sungguh-sungguh untuk meraih sesuatu yang di dambakan. Prinsip ketiga adalah tawakkal, berserah diri kepada Allah SWT agar keberhasilan tidak membuahkan kesombongan dan kegagalan tidak membuahkan keputusasaan.
                Pada pertemuan yang di tutup dengan sholawat nabi tersebut, salah satu yang memang di tekankan adalah adalah usaha yang sungguh-sungguh, terutama dalam masa pengabdian di KMNU, harapannya semoga KMNU terus berkembang dan menjadikan NU lebih baik dan anggotanya mencapai derajat khalifatullah. [MHA] 

Kontributor : Muhammad Arifin

KMNU IPB Dari “Tawakkal Nekad” Menuju “Tawakkkal Terorganisasir”

       


      Di usia yang ke-7 tahun ini KMNU IPB semakin bekerja keras memperbaiki diri dalam hal keorganisasiannya. Dalam pertemuan Alumni KNU IPB yang diselenggarakan pada Sabtu, 7 Juni 2014, Daus selaku Ketua Alumni KMNU IPB menyampaikan bahwa tawakkal dan keteraturan itu adalah dua hal penting yang tak bisa dipisahkan.
“Tawakkal itu kan tahap akhir setelah ikhtiyar dengan sungguh-sungguh serta diiringi doa. Kalo terorganisir ya jelas lah, kita maunya gitu. Moso bondo nekad terus, kan kebaikan yang tak terorganisir bisa dihancurkan dengan kedholiman yang terorganisir.” Jelas Daus. 
Dalam pertemuan tersebut salah satu pembahasannya adalah bagaimana agar proses perubahan pengembangan organisasi di KMNU IPB yang terus dilakukan tetap dapat mempertahankan nilai-nilai tawakkal yang selama ini dijunjung tinggi. Jangan sampai tawakkal kemudian bergeser menjadi kepasrahan. Karena kepasrahan berarti menyerahkan segala keputusan pada Gusti Allah tanpa usaha dan kesungguhan sebelumnya, berbeda dari tawakkal itu sendiri.
Dalam kesempatan yang sama, Elisa salah satu alumni KMNU IPB menyampaikan, “Tawakkkal atau tidak, itu faktor penyebabnya banyak. Formalisasi bisa jadi salah satu faktor, penyebabnya. Tapi yang paling berpengaruh itu karakter orangnya. Orang yang sudah common sense dan berpikir logis akan bisa menempatkan diri pada sistem tanpa terkerdilkan.”
Seperti yang dikatakan KH. A Muchith M, “ NU ibarat sebuah kebun, tanamannya banyak bermacam-macam tapi semerawut. Secara organisasi NU kdedodoran, tetapi orang NU sangat solid, ikatan batin diantara orang NU sangat kuat.” Oleh karena itu, Adi salah satu alumni KMNU IPB ingin KMNU belajar menjadi terorganisir, sehingga nanti bisa diaplikasikan di NU. Artinya suatu saat NU akan tetap solid dengan iakatan batin tetap kuat, dan ditambah kokoh secara organisasi. Dan di sinilah KMNU IPB hadir untuk memulai semua itu menjadi tunas-tunas harapan untuk NU di masa depan. [MHA]

Senin, 23 Juni 2014

Kisah Inspiratif : Jangan Mudah Mengkafirkan Orang Lain



Calon Presiden Musuh Islam?"
 
“Cilaka, Kyai! Cilaka!” Aku baru saja tiba di Pondok Kyai Husain. Setelah mencium tangannya, aku tak bisa membendung rasa kesalku yang telah kutahan cukup lama. Kegelisahanku tiba-tiba
membrudal di hadapan wajah teduh Kyai Husain yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahku.
“Cilaka apanya, Nak?” Tanya Kyai Husain.
“Pilpres!” Aku tak punya jawaban lain yang lebih panjang lagi. Aku yakin Kyai Husain akan
mengerti.
Kyai Husain terkekeh. “Ndak usah dipikir!” Katanya, “Nanti juga reda sendiri. Ndak usah dipikir!”
Kyai Husain kemudian mulai melinting tembakaunya.
“Tapi ini sudah menyangkut keselamatan ummat, Kyai. Ini sudah genting! Jika calon yang
didukung para pengusaha hitam dan musuh-musuh Islam yang menang, bisa habis ummat Islam
di negeri ini. Negeri ini akan hancur dan mendapatkan azab dari Gusti Allah!”
Kyai Husain mengangguk-angguk. Wajahnya tampak prihatin. “Kamu sudah shalat?” Tanyanya.
Aku menggelengkan kepala. “Ambillah air wudhu, lalu shalatlah terlebih dahulu. Waktu ashar hampir habis.” Kata Kyai Husain.
Pelan-pelan keresahanku ciut. Aku malu pada diriku sendiri. Betapa bebalnya imanku, aku
berteriak-teriak mengkhawatirkan nasib ummat tetapi aku sendiri lupa menjalankan
kewajibanku.
Aku pamit pada Kyai Husain untuk ke surau. Kyai Husain mengangguk-angguk perlahan. Beliau
sedang asyik dengan tembakaunya.
Selang delapan atau sepuluh menit, aku sudah menghadapkan wajahku lagi pada Kyai Husain.
“Bagaimana shalatmu?” Tanya Kyai Husain tiba-tiba.
Aku terkejut ditanya demikian. Bagaimana shalatku?
“Eh, begitu, Kyai. Begitu saja. Alhamdulillah saya sudah shalat sekarang.” Aku menjawab
pertanyaan itu dengan terbata-bata.
“Apa yang kaupikirkan dalam shalatmu?” Kyai Husain bertanya lagi.
Sebenarnya aku agak tersinggung ditanya-tanya begini. Apa urusan Kyai Husain tentang shalatku?
Bukankah itu urusanku dengan Gusti Allah? Untuk apa Kyai Husain tanya-tanya segala? Tapi,
karena aku sangat menghormati Kyai Husain, mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin mengakatan kepadanya bahwa aku tersinggung. Aku juga tak mungkin menjawab, Bukan urusan Anda, Kyai!
Bisa-bisa nanti beliau yang tersinggung. Jika begitu, celakalah aku. Bisa kualat aku. Apalagi Kyai Husain inilah yang dulu mengajari aku shalat. Dari alif-ba-ta Al-Fatihah sampai rukuk-sujud gerakan shalat dia ajarkan kepadaku dengan penuh kesabaran.
“Eh… Anu, begini, Kyai… Soal shalat, biarlah itu menjadi komunikasi batin antara saya dan Gusti Allah.” Astagfirullah. Mengapa kata-kata itu juga yang keluar dari mulutku?
Kyai Husain terkekeh. Kemudian agak terbatuk. “Ya sudah… Soal agama, biarlah itu juga jadi
urusan pribadi-pribadi dengan Tuhannya” Katanya, lalu beliau menghisap tembakaunya. “Tapi,
dalam shalatmu, kamu mikirin copras-capres atau tidak?” Sambung Kyai Husan, kemudian
tertawa lebar.
Aku jadi kikuk. Aku tersenyum-senyum malu.
“Iya, Kyai.” Aku memang tak khusuk dalam shalatku tadi. Kepalaku dipenuhi kekhawatiran-ke
khawatiran dan semacam kebencian. Khawatir karena elektabilitas capres yang kubenci, yang
begitu membahayakan bagi umat Islam, terus saja tinggi dan sulit tersaingi. Maunya apa sih
ummat Islam Indonesia ini? Aku gelisah luar biasa dalam shalatku.
“Coba kamu ingat-ingat lagi,” kata Kyai Husain, “Capres mana yang paling membuatmu gelisah
dalam shalat?”
“Jelas dia yang musuh ummat, Kyai! Jelas dia yang dikendalikan cukong-cukong asing! Jelas dia
yang tidak pro kebijakan syariah! Jelas sekali dia yang diharamkan para ulama untuk dipilih!” Aku menjawab pertanyaan Kyai Husain dengan berapi-api.
Kyai Husain terkekeh. “Shalatmu begitu berat,” katanya.
Aku kebingungan. “Shalatmu penuh beban,” lanjut Kyai Husain. “Aku tak pernah mengajarkan shalat yang penuh beban.”
“Tapi, Kyai…” Aku berusaha memotong Kyai Husan, “Mohon maaf. Ini memang masalah genting yang sedang kita hadapi sebagai bangsa. Pemilihan presiden tinggal 20 hari lagi, musuh-musuh Islam hampir saja menang!”
“Siapa yang kau sebut musuh-musuh Islam?”
“Capres boneka! Juga orang fasik di belakangnya!” Jawabku dengan penuh semangat.
“Bukankah dia juga seorang Muslim?” Tanya Kyai Husain.
“Saya meragukan keislamannya, Kyai! Itu pasti pencitraan! Keislaman palsu!”
“Ajari aku tentang keislaman yang asli, keislaman yang sejati?” Dengan tenang Kyai Husain
mengajukan pertanyaan yang sama sekali tak kuduga. Beliau masih menghisap tembakaunya.
“Eh, Kyai. Mohon maaf, Kyai. Saya tidak dalam kapasitas untuk menjelaskan itu.” Tiba-tiba aku
merasa malu pada diriku sendiri. Apa hakku memberi batas dan ukuran-ukuran bagi keislaman
seseorang? Mengapa aku melabeli seseorang atau orang lain bahwa keislaman mereka palsu,
pencitraan dan harus diragukan?
“Kalau begitu bagaimana dengan keislamanmu sendiri?” Tanya Kyai Husain.
Aku makin gelagapan. Bahkan shalat pun aku masih sering terlambat. Hingga hampir kehabisan
waktu. Bahkan jika shalat pun aku masih memikirkan hal-ihwal ini-itu. Apa hakku mengatur-atur
keisalaman orang lain? Bagaimana dengan keislamanku sendiri?
Aku tertunduk lesu. Tak bisa menjawab apa-apa dan tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya
menggelengkan kepala.
Kyai Husain terkekeh.
“Ummat Islam lebih besar dari sekadar pemilu-pemiluan,” jawab Kyai Husain, “Agama ini lebih
besar dari sekadar capres-capresan!” Beliau tampak lebih serius.
Aku mulai memerhatikan perkataan Kyai Husain.
“Sebenarnya aku tak suka membicarakan ini. Islam dan apapun saja di dunia ini tidak level untuk
dibanding-bandingkan. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi lagi darinya, itu sudah
final. Kamu mau bawa-bawa Islam untuk urusan politik? Kamu tak lebih dari mereka yang
memperjualbelikan agama untuk urusan dunia. Kamu mau membela ummat Islam? Tanyakan itu
sekali lagi pada dirimu sendiri, bukankah kamu sebenarnya sedang melakukan segmentasi
pemilih? Bukankah kamu ingin menggiring pemilih untuk melihat mana capres Islam dan bukan
Islam agar mereka bisa dikategori-kategorikan, dikelompok-kelompokkan, agar syahwat
kekuasaanmu dan sekelompok orang tertentu bisa tercapai? Kamu ini sedang membela Islam,
atau siapa? Kamu ini sedang membela Gusti Allah atau membela orang-orang yang hanya
mengaku-ngaku dekat dengan Gusti Allah?”
“Lalu soal mengharam-haramkan. Soal bahwa memilih capres tertentu diancam berdosa dan
bahkan masuk neraka. Apa hakmu untuk mengatur-atur urusan yang bahkan Rasulullah
Muhammad pun tak mungkin sanggup mencampuri urusan Gusti Allah itu? Apakah kamu sudah
merasa lebih besar dari Rasulullah dan Gusti Allah? Kamu boleh senang atau tidak senang
dengan capres terntentu atau siapapun saja, tetapi kemu tidak boleh senang melihat ummat
Islam terpecah belah, dipecah-belah. Kamu boleh senang dengan politik dan segala tetek
bengeknya, tetapi kamu tidak boleh senang melihat agamamu dijadikan alat untuk mendulang
suara—kamu tidak boleh mengharam-haramkan sesuatu yang dengannya sebenarnya kamu
sedang berusaha menghalal-halalkan syahwat dan nafsu politikmu semata!”
Aku hanya bisa menunduk. Kata-kata Kyai Husain benar-benar menampar hatiku.
“Tapi Kyai…” Aku berusaha memberi pembelaan, “Situasinya sekarang sudah hitam putih. Sudah jelas mana pembela Islam dan mana musuh Islam. Situasinya sudah genting!”
Kali ini Kyai Husain tampak marah. “Dengarkan aku!” Katanya, “Musuh Islam sejati adalah orang-orang munafik! Mereka yang dalam luka baru mengaku saudara! Mereka yang dalam situasi yang menguntungkan dirinya saja baru mengaku-aku dekat dengan agama ini. Mereka yang
menjadikan agama ini hanya sebagai atribut belaka! Mereka yang menyebarkan kebencian dan
merasa bahwa dirinya paling beriman.”
“Tapi… tapi…” Aku berusaha memotong Kyai Husain. Tapi beliau tampak benar-benar geram
dengan situasi ini.
“Islam tak membutuhkan orang-orang yang menyebarkan kebencian sebagai jalan untuk meninggikannya. Gusti Allah tak perlu dibela. Jika kamu pikir besok Islam akan habis jika calon
presiden yang kaubenci itu menang, kamu sudah benar-benar mengerdilkan dan meremehkan
agama ini. Apakah jika dia menang lantas kamu otomatis pindah agama? Kecuali kualitas
imanmu memang seperti kaus kaki yang kendur, kamu patut mengkhawatirkannya.
Khawatirkanlah kualitas keimananmu sendiri!”
Aku mulai berpikir rupanya Kyai Husain memang punya pandangan politik yang berbeda
denganku. Jangan-jangan beliau sudah bergabung dengan pendukung calon presiden boneka.
Jangan-jangan beliau sudah sesat dan menjadi musuh Islam. Aku tak boleh menemuinya lagi. Ya, aku tak boleh menemuinya lagi. Haram hukumnya bagiku untuk menemuinya lagi.
“Sebentar lagi, kamu akan menuduhku kafir.” Tiba-tiba Kyai Husain seperti bisa membaca
pikiranku. Lalu tertawa. “Tidak apa-apa jika kau berpikir begitu. Kelak di surgamu yang kamu
bayang-bayangkan, mungkin kamu tidak akan menemukan orang-orang sepertiku. Surgamu
mungkin akan dipenuhi oleh orang-orang yang suka menunjuk-nunjuk hidung orang lain sebagai
sesat atau kafir atau musuh agama, sebab hanya diri mereka yang benar. Mungkin perlu juga
kamu pikirkan apakah di antara orang-orang seperti ini terdapat kemungkinan untuk saling
menyalah-nyalahkan dan mengkafir-kafirkan juga? Sebab kebenaran hanya benar menurut
dirimu sendiri, bukan? Di surga semacam itu, mungkin kamu akan hidup sendirian!”
Kyai Husain terkekeh.
Aku berada pada situasi yang benar-benar membingungkan Aku mulai ragu pada diriku sendiri.
Apa yang dikatakan Kyai Husain benar-benar menampar hati dan kesadaranku.
“Maafkan saya, Kyai.” Tiba-tiba aku memohon maaf padanya. Akal sehat dan nuraniku
memerintahkannya.
Kyai Husain hanya tertawa, sambil sesekali menghisap lintingan tembakaunya yang hampir
habis. “Kau tak perlu meminta maaf padaku,” katanya, “Tapi kau harus mulai berpikir, bahwa
calon presiden yang kamu bela atau calon presiden yang kamu benci tak akan menentukan apa-
apa bagi kualitas keimanan dan ketakwaanmu sebagai individu. Itu urusan pribadimu sendiri
dengan Gusti Allah.”
Aku mengangguk-angguk setuju.
“Perbaiki shalatmu,” kata Kyai Husain, “Perbaiki apa saja yang buruk pada dirimu. Lalu berbuat
baiklah pada sesama. Jangan gadaikan agamamu hanya untuk sesuatu yang sementara seperti
pesta demokrasi lima tahunan ini.”
“Tapi kita harus memilih, Kyai.”
Kyai Husain mengangguk. “Aku setuju. Pilihlah yang paling cocok menurut pertimbangan akal
dan hati nuranimu.”
Aku mengangguk-angguk, “Terima kasih, Kyai.”
Magrib hampir tiba. Kyai Husain mangajakku ke surau untuk shalat magrib berjamaah. Aku
menyetujui ajakannya. “Selesai shalat, orang-orang akan membicarakan hal yang sama,” Kyai
Husain sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak apa-apa,” katanya, “Ini
sedang masanya. Kelak kita akan kembali pada urusan masing-masing, pada problem hidup
masing-masing, pada takdir dan nasib kita masing-masing, dan harus berjuang untuk
menyelesaikannya sendiri-sendiri.”
Aku mengangguk. “Saya akan memilih calon presiden yang paling baik, yang bisa membantu
rakyat untuk menyelesaikan problem-problem keseharian mereka, Kyai.”
“Nah, kali ini pertimbanganmu benar.” Kata Kyai Husain. “Alasan itu saja yang kau jadikan
pertimbangan untuk menentukan pilihanmu, tak usah repot-repot bawa agama.”
Aku tersenyum. Ada semacam kelegaan dalam hatiku mendengar persetujuan Kyai Husain
tentang pendapatku. Aku sengaja memelankan langkahku, ingin melihat Kyai Husain dari
belakang. Aku memerhatikan langkah ritmisnya, rambut putihnya, sarung hijaunya, juga surban
yang tak lepas dari kepalanya.
“Kyai…” Tiba-tiba aku ingin memanggilnya.
Kyai Husain menoleh.
“Siapa yang Kyai pilih?”
“Tak ada yang sempurna,” Jawabnya. “Seperti kita tahu, tak ada manusia yang sempurna. Bahkan
Muhammad tak memiliki suara merdu seperti Daud, tak memiliki kemampuan fantastis seperti
yang dimiliki Sulaiman, bahkan mungkin saja tak seberani Ibrahim atau setangguh Musa. Aku
akan memilih calon presiden yang paling mengetahui bahwa dirinya tak sempurna dan dia yang
paling bisa menghargai kemanusiaan sesama.”
Aku tak bisa menebak pilihan Kyai Husain.
“Siapa orangnya, Kyai?”
Kyai Husain hanya tersenyum, lalu terus berjalan menuju surau.
Usai shalat magrib, aku menyadari bahwa aku kembali tidak khusuk dalam shalatku. Sepanjang
shalat, aku terus berpikir tentang pilihanku dan memerhatikan Kyai Husain yang menjadi imam.
Ada bacaan shalat Kyai Husain yang menurutku keliru pelafalan dan tajwidnya.
Mungkin memang sulit mencari imam yang sempurna, pikirku. Tetapi dalam shalat berjamaah,
semua orang diberi Allah derajat pahala berlipat ganda. Aku mulai sadar, kebaikan yang
paripurna tak bisa dicapai sendirian.
Aku terus memerhatikan Kyai Husain yang kali ini tampak sedang berdzikir. Kepalanya
mengangguk-angguk ritmis. Aku belum tahu jawaban Kyai Husain tentang calon presiden
pilihannya... Tapi aku mulai ragu pada pilihanku sendiri.
----
Melbourne, 21 Juni 2014
*Penulis: Fahd Pahdepie atau dikenal juga dengan nama pena Fahd Djibran adalah mahasiswa
Postgraduate di School of Politics and International Relations, Monash University, Australia. Saat
ini tinggal di Melbourne.

 
Hadirilah Kegiatan Rutinan KMNU IPB "Untuk Umum" Pengajian Kitab Kuning setiap jum'at 19.00 di Node AGH Lantai 2 dan Pembacaan Sholawat Maulid Ad-Dibai setiap Sabtu malam Ba'da Isya Di Mushola Al Ikhlas DR, Hub: Slamet (085697568465), Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk mengikuti Majelis Ilmu dan Sholawat, Amiin.