KMNU IPB

Bangkitlah NU Ku, Hijaulah Kampus Ku, Sejahterahlah Bangsa Ku

Majlis Sholawat Maulid Ad-Diba'i KMNU IPB

Majlis Sholawat Maulid Ad-Diba'i merupakan kegitan rutinan "untuk UMUM" setiap sabtu malam yang diadakan setelah sholat Isya' di Musholla Al-Ikhlas dan khusus sabtu malam diawal bulan diadakan di Masjid Al-Wustho Babakan Tengah. Cp : Ersyad (085641055065)

Tim Hadroh KMNU IPB

Tim Hadroh ini dibentuk sebagai rasa cinta untuk bershalawat atas baginda Rosul SAW dan melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah yang mulai terkikis. untuk itu Tim Hadroh KMNU IPB dapat diundang dan tampil untuk memeriahkan disetiap kegiatan keagamaan maupun non-keagamaan baik pengajian maupun seminar dilingkunga IPB dan Bogor. Cp: Hasan (085740955532)

Wasiat K.H.R As'ad Syamsul Arifin

Mari kita berpegang teguh kepada para ulama dan melakukan apa yang diwasiatkan

Syair Cinta Tanah Air (Mars Syubbanul Wathan)

Syair penggugah semangat untuk berjuang dan cinta Tanah Air

Rabu, 23 April 2014

Labelisasi Partai Dakwah Atau Partai Islam

Asy-Syahid Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi pernah diajak untuk membuat Partai Islam oleh Presiden Hafez Asad. Beliau ditanya:
“Anda adalah pemuka Islam yang disukai rakyat Suriah. Kenapa tidak membuat partai berbasis Islam supaya aspirasi Muslim tersalurkan, karena mungkin mereka tidak suka partai sekuler seperti partai Baath?”
Syaikh al-Buthi menjawab:
“Oke, mungkin saya istiqamah pada Islam, mungkin saya bisa jadi teladan yang baik dalam berpolitik, dan saya yakin dalam setahun saya bisa mendapat jutaan pendukung. Tapi, apa saya bisa memastikan orang-orang yang mengikuti partai Islam saya benar-benar mencerminkan akhlak Islam? Kalaupun ketika saya hidup, mereka menjadi seperti saya, apa Anda bisa yakin kalau saya sudah mati, mereka tetap seperti itu? Kalau mereka berbuat salah, Islam yang dibawa-bawa, padahal Islam bukan diwakili oleh partai.
Kemudian, kalau saya menjadi ketua partai, saya akan merasa mendzalimi umat Islam lainnya yang tidak masuk partai saya. Kalau suatu saat anggota partai saya berbuat salah, orang partai lain menghujat anggota partai saya, saya pastinya akan mendukung anggota saya dan membelanya. Sedangkan saya tahu dia salah dan orang partai lain yang benar. Tapi karena dia orang partai saya, saya membela dia. Saya jadi sangat dzalim!
Biarlah saya berdakwah seperti ini, tanpa bawa-bawa partai. Kalau mau berdakwah, jangan sampai kamu dipolitiki. Kalau mau berpolitik kamu harus tahu agama, tapi jangan dekati mimbar.”
Disadur dari tulisan Ustadz Ichwands dan ditulis ulang oleh Imam Besar Jomblowan Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 21 April 2014.

Sabtu, 19 April 2014

Catatan Perjalanan Pejuang Muda KMNU IPB : " Kembali ke 'Rumah' "

Belum banyak waktu yang saya lewatkan bersama keluarga ini. Belum banyak yang saya ketahui tentang keluarga ini. Tapi banyak hal yang sudah saya dapatkan selama mengenal mereka, keluarga baru saya. KMNU IPB, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama Institut Pertanian Bogor. Keluarga ini sederhana, bahkan invisible bagi sebagian warga IPB. Siapa sih yang peduli dengan orang-orang bersarung, membaca kitab kuning? Siapa sih yang peduli dengan orang-orang yang sholawatan dan membaca istighosah?

Kadang kita memang harus menutup telinga dan memejamkan mata atas sikap-sikap menyudutkan, menganggap bid’ah dan khurafat atas apa yang kita lakukan. Menganggap tidak terjadi apa-apa di luar ‘jendela’ kita. Dan, lihat? Kita masih baik-baik saja, keluargaku. Bahkan ketika kita dianggap liberal dan tidak memahami makna amal jama’i. Ketika kita dianggap sebagai barisan yang gugur dalam memperjuangkan tegaknya Islam, dianggap gugur dari jalan dakwah hanya karena kita tidak berafiliasi pada sebuah pergerakan Islam yang diusung mereka. 

Kalau kita mau sedikit menahan ego, Kawan, kita akan melihat perbedaan cara berdakwah bukan menjadikan satu kelompok lebih buruk dari kelompok lainnya. Islam sebagai rahmatan lil’alamin seharusnya menjadikan perbedaan bukan sebagai pemisah dan penghierarkhi antarmanusia. Kita samakok, sama-sama dengan ikhlas, insya Allah, mengakui tiada Tuhan selain Allah dan Rosulullah saw sebagai junjungan kita. Kita sama-sama berusaha menegakkan amal ma’ruf nahiy munkar dan berusaha sami’na wa atho’na atas perintah qiyadah tertinggi kita, Kanjeng Nabi saw. 

Ah, kalau kita mau sedikit menahan ego, tidak akan ada istilah ‘orang umum’ yang kita berikan sebagai gelar bagi orang-orang tertentu di sekitar kita. Alangkah malunya kita, menganggap diri kita lebih baik, lebih ‘alim dari yang kita sebut sebagai ‘orang umum’ itu. Alangkah malunya kita, seberapa banyakkah amal baik yang telah kita perbuat? Alangkah malunya kita, seberapa besarkah perbedaan derajat kita dibanding ‘orang umum’ tersebut?Astaghfirullah..

Oke, lebih baik kembali membahas keluarga baru saya saja ya.. hehe. Kenapa saya sebut KMNU sebagai keluarga baru saya? Bukankah saya terlahir dari rahim seorang ibu yang suaminya ‘orang’ NU? Bukankah saya tumbuh dan dibesarkan oleh orang-orang NU? Ya, belasan tahun saya dipenuhi kebutuhannya oleh orang-orang NU, tapi saya tidak pernah menyadarinya. Saya buta dan tuli. Buta untuk melihat begitu indah Islam yang berhasil disebarkan oleh Para Wali Songo di tanah ini. Tuli untuk mendengar cerita-cerita dan nasihat orang tua yang mengajarkan saya melestarikan tradisi baik khas masyarakat tanah ini. Saya hanya bisa berbicara. Berbicara tanpa dasar ilmu dan pengetahuan. Lisan saya bergerak lincah seakan saya orang paling pintar dan paling mengerti Islam. Astaghfirullah..



Sampai akhirnya, Allah mengirimkan berbagai kejadian beserta orang-orang yang berhasil membuat saya rela membuka mata dari kebutaan, membebaskan telinga dari ketulian. Fanatisme terhadap suatu pergerakan Islam seharusnya tidak merasuki saya. Fanatisme itu kejam, menyakitkan orang-orang yang sebenarnya menyayangi kita. Saya masih ingat bagaimana Ayah saya begitu kecewa melihat saya tidak peduli pada kitab fiqih, tidak peduli pada ziarah, tidak peduli pada tradisi yasinan, menolak di-pondokkan.Kalau saya mau meredam ego saya yang sok pintar waktu itu, saya akan melihat besarnya kasih sayang seorang ayah yang ingin putrinya tidak sia-sia ibadahnya karena tidak mengerti ilmu dengan memerintahkan saya belajar kitab kuning, belajar dengan baik di pondok pesantren. Ia ingin putrinya mengingat kematian dan tidak lupa mendoakan orang tua kelak ketika mereka telah tiada dengan mengajak saya berziarah ke makam dan meminta saya membantu Ibu menyiapkan hidangan bagi orang-orang yang yasinan. Betapa besar kasih sayang ayah saya tapi dengan tega saya mengecewakannya. 

Orang-orang itu dikirim oleh Allah tepat setelah saya selesai menamatkan SMA dan bersiap merantau ke IPB. Sesampainya di IPB orang-orang yang dikirim Allah makin banyak, dan saya sadar telah menjadi seseorang dengan pemikiran yang berbeda dari beberapa waktu sebelumnya. Setidaknya saya tidak lagi ingin terlibat dalam fanatisme atas nama agama.

Yang saya bingungkan, kenapa masih saja ada orang-orang yang memaksakan kefanatikan kepada saya bahkan ketika saya dengan terang-terangan mengatakan bahwa saya orang NU dan saya setuju dengan paham yang diusung oleh NU. Orang-orang itu dengan banyak cara berusaha memengaruhi saya bahkan saya merasa dipaksa untuk melihat sisi-sisi buruk saja dari sebuah organisasi berjasa besar bernama NU. Pada akhirnya mereka secara tidak langsung menunjukkan ketidaksukaannya melihat saya memilih kembali pulang ke’rumah’, sekaligus mengenal keluarga baru saya di sini. Apapun itu, saya yakin pada pilihan saya. Bahwa inilah rumah saya. Tempat saya dibesarkan dan diajarkan. Tempat para kyai terdahulu berjuang di tengah ketidakamanan situasi penjajahan. Hanya di rumah ini saya diajarkan untuk tidak melupakan jasa Wali Songo, jasa para Kyai, dan diajarkan untuk mencintai tanah air Indonesia..

saya bersama KMNU IPB angkatan 50 (2013)
Oleh : Kholilah Dzati Izzah

Kamis, 17 April 2014

Syarah hadits Jariyah; Allah ada tanpa Arah dan Tempat

Dalam shahih Muslim diriwayatkan bahwa Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami sowan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- membawa seorang budak perempuan (Jariyah). Rasulullah bertanya kepada jariyah itu: “Dimanakah Allah?”. Ia menjawab: “Di langit”. Rasulullah bertanya (lagi): “Siapa Aku?”. Ia menjawab: “Anda adalah utusan Allah”. Lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada Mu’awiyah: “Merdekakanlah dirinya, sesungguhnya ia orang yang beriman!”. 

Hadits ini juga diriwayatkan Imam Malik.

Dalam riwayat Ahmad diceritakan bahwa seorang lelaki Anshar sowan kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan berkata: “Ya Rasulallah! Sesungguhnya saya mempunyai budak perempuan yang beriman. Jika Anda melihat bahwa ia beriman, maka saya akan memerdekaannya”. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bertanya kepada budak itu: “Apakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?”. Ia menjawab: “Ya!”. Rasulullah bersabda: “Adakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”. Ia menjawab: “Ya”. Rasullah bersabda: “Apakah kamu beriman dengan kebangkitan setelah mati?”. Ia menjawab: “Ya!”. Rasulullah bersabda: “Merdekakanlah dia!”.

Dalam riwayat Ahmad, Bazzar dan At-Thabrani dalam al-Awsath, diceritakan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu—bahwa sesungguhnya seorang lelaki sowan kepada Rasulullah dengan seorang budak a’jami yang berkulit hitam. Ia berkata: “Ya Rasulallah!. Aku mempunyai budak perempuan yang beriman”. Lalu Rasulullah bersabda kepada budak itu: “Dimanakah Allah?”. Budak itu memberi isyarat dengan kepala dan jari telunjuknya ke langit. Rasulullah lalu bersabda: “Siapa aku?”. Ia menunjuk Rasulullah dan ke arah langit. Rasulullah bersabda: “Merdekakanlah ia!”. 

Hadits ini adalah hadits yang menjadi pegangan bagi mereka yang mengatakan bahwa Allah memiliki arah dan berada di atas. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat ahlussunnah wal jamaah yang mengatakan Allah maha tinggi, tanpa arah dan tempat. Menggunakan dalil (istidlal) dengan hadits ini, sebagai dasar bahwa Allah memiliki arah dan berada di atas langit adalah batal dan pendapat tersebut tidak dapat diterima (mardud). Berikut adalah alasan-alasannya:

Pertama:
Jika ditelusuri hadits ini berstatus idhtirab dalam periwayatan matannya. Satu riwayat menggunakan redaksi “Man rabbuka?, faqalat allah (siapa tuhanmu?, ia menjawab Allah)” dan riwayat yang lain menggunakan redaksi “Aina Allah, fa asyarat ilassama’ (Dimana Allah?, lalu ia menunjuk langit”. Ada pula riwayat yang menggunakan redaksi: “atashadina an la ilaha illallah, qalat na’am. Qala: Atasyhadina anni Rasulullah? Qalat: Na’am (adakah kamu bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Ia berkata: Ya. Rasulullah bersabda: adakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?. Ia berkata: Ya)”.

Kedua:
Redaksi hadits yang menggunakan “aina Allah” bertentangan dengan ukuran shahih dan mu’tabar dalam membuka hakikat keislaman seseorang, dimana dengan ukuran itu dalam diri seseorang berlaku segala hak, kewajiban dan larangan yang tercantum dalam syariah Islam. Ukuran shahih yang mu’tabar adalah hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh 25 orang sahabat, yaitu:

 أمرتُ أن أقاتلَ النَّاسَ حتّى يشهَدُوا أن لا إلهَ إلا الله وأنّي رسولُ الله 

“Saya diperintah untuk memerangi manusia, kecuali mereka bersaksi, tiada tuhan selain Allah dan Aku adalah utusan Allah”.

Dalam sejarah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sama sekali tidak pernah membuktikan keislaman sekelompok kaum dengan pertanyaan “Dimanakah Allah?” sebelum beliau memerangi mereka. Beliau selalu menunggu, sampai terdengar adzan dari arah mereka, sebagai bukti keimanan mereka. Rasulullah juga tidak pernah menyatakan bahwa syahadat yang telah diucapkan harus disertai pengakuan bahwa Allah di atas langit.

Dari sini dapat diketahui bahwa pertanyaan menggunakan “Dimanakah Allah?” bukan bagian dari dasar-dasar tauhid, bahkan dapat menafikan kesucian yang sempurna yang harus diberikan kepada Allah ta’ala. Kalaupun ada dari kalangan salaf yang menetapkan istiwa’ (bersemayam) bagi Allah, itupun adalah penetapan keluhuran dan ketinggian yang layak bagiNya, bukan menisbatkan arah dan tempat yang memberikan kesimpulan bahwa Allah mempunyai badan (jisim). 

Ketiga:
Ulama ahlussunnah wal jamaah baik salaf maupun khalaf sepakat bahwa kalimat “aina Allah (Dimana Allah?)”, kalau memang redaksi hadits benar-benar demikian, bukan berarti Allah mempunyai tempat, dan bukan berarti Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam—bertanya tentang tempat dimana Allah berada di dalamnya.  Allah adalah yang menciptakan segala yang ada, termasuk arah dan tempat. Dan tentunya Allah ada sebelum adanya tempat dan arah. Allah tidak pernah berubah. Sesudah tempat dan arah diciptakan, Allah masih tetap, tidak memerlukan tempat, arah dan segala yang ada.

Keempat:
Pertanyaan Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- kepada budak perempuan a’jami itu adalah pertanyaan yang jawabannya berfungsi menafikan kesyirikan. Ketika pertanyaan dengan “aina Allah?” tidak dapat memberikan jawaban yang berfungsi demikian, maka dapat diyakini bahwa pertanyaan seperti ini tidak muncul dari Rasulullah. Hal ini disebabkan bahwa riwayat-riwayat hadits terkadang tidak sama persis dengan sabda Rasulullah yang sebenarnya. Periwayatan hadits terkadang berdasarkan apa yang dipaham oleh perawinya. Oleh sebab itu, hadits dengan redaksi “aina allah” meskipun shahih harus dibelokkan maknanya kepada redaksi hadits “man Rabbuka” yang juga shahih dan jelas maknanya.

Kelima:
An-Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan bahwa hadits ini adalah salah satu hadits-hadits yang menerangkan sifat-sifat Allah. Ada dua pendapat shahih mengenai hal ini. Pertama: mengimaninya tanpa tenggelam dalam maknanya, disertai keyakinan (I’tiqad) bahwa Allah tidak mempunyai persamaan, dan mensucikan Allah dari alamat-alamat yang dimiliki makhluk. 

Kedua: memberikan ta’wil dengan makna yang pantas baginya. Misalnya dengan mengatakan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menguji budak tersebut apakah ia seorang yang bertauhid, dan mengakui bahwa Allah adalah dzat yang menciptakan, mengatur dan mengerjakan apa yang Dia kehendaki. Allah adalah Allah yang diminta saat berdoa menghadap langit, seperti ketika shalat menghadap ka’bah. Bukan berarti Allah berada dilangit atau berada di arah ka’bah.

An-Nawawi melanjutkan bahwa al-Qadli Iyadl mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat diantara kaum muslimin, baik yang ahli fiqih, ahli hadits, ahli kalam, dan para pengikut mereka, bahwa dzahir hadits atau ayat yang menyebutksn bahwa Allah di langit tidak dapat dimaknai secara dzahir, tetapi harus dita’wil dengan makna yang sesuai dan pantas bagi Allah. Laisa kamitslihi sya’un, wahuwas sami’ul bashir. 

Wallahul A’lam bis Shawab


Rabu, 16 April 2014

Seorang Nenek Menjadi Muallaf Setelah Mendengan Lantunan Dzikir Berjamaah

Pagi hari ini, Sabtu 7 Desember 2013, Masjid As-Sidas Boyolali menggema dengan lantunan dzikir berjama’ah. Tampak ribuan jama’ah bersama-sama bertakbir, bertahmid, mengagungkan Allah SWT serta berdo’a bermunajat kepada Sang Pencipta.

Indahnya dzikir berjama’ah di Masjid As-Sidas Pucang Ngargosari Boyolali Jawa Tengah kali ini menjadi lebih khusu’ dengan kehadiran sosok da’i ahlussunnah wal jama’ah K.H. Muhammad Arifin Ilham. Beliau adalah sosok ulama pengasuh Majelis Az-Zikra Sentul Bogor yang begitu tawadhu yang lebih suka dipanggil Abang ketimbang Kyai atau Ustadz.

Yang lebih spesial lagi adalah hadirnya seorang muallaf yang mengikrarkan 2 kalimah syahadat di hadapan para jama’ah. Gemuruh takbir, tahmid dan deraian air mata pun tidak dapat terbendung menyambut masuk Islamnya seorang nenek yang bernama Rubiah yang saat ini berumur 85 tahun. Hidayah Allah ini terjadi karena nenek itu mendengar lantunan dzikir dan doa yang dipanjatkan ribuan jamaah Masjid As-Sidas Boyolali pagi ini. Subhanalloh, Maha Suci Allah yang telah menunjukan jalan yang benar bagi hamba-hambaNya.

Inilah diantara hikmah berkah mereka yang mendekati majelis dzikir, apalagi mereka yang sungguh-sungguh berdzikir, “liyukhrijakum minadzhulimaati ilannuuri“, dengan banyak berzikir, Allah keluarkan mereka dari kegelapan menuju cahayaNya (al-Qur’an Surat al-Ahzab ayat 41 – 44).

Menurut K.H. Muhammad Arifin Ilham, nenek Rubiah adalah muallaf yang ke-582. Nenek tersebut menyatakan diri masuk Islam bersyahadat disaksikan di depan para asatidz dan keluarganya yang telah lebih dahulu masuk Islam.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah SAW bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَناَ عِنْدَ ظَنِّي عّبْدِي بِي وَأنَا مَعَهُ عِنْدَ ذَكَرَنِي، فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرًا مِنْهُ –منقق عليه

Allah Ta’ala berfirman: Aku kuasa untuk berbuat seperti harapan hambaku terhadapku, dan aku senantiasa menjaganya dan memberinya taufiq serta pertolongan kepadanya jika ia menyebut namaku. Jika ia menyebut namaku dengan lirih, Aku akan memberinya pahala dan rahmat dengan sembunyi-sembunyi, dan jika ia menyebutku secara berjamaah atau dengan suara keras maka aku akan menyebutnya di kalangan malaikat yang mulia”. (Hadtis Riwayat Bukhari-Muslim)

Sungguh beruntunglah orang-orang yang senantiasa berzikir menyebut asma Allah baik sendirian maupun berjama’ah, baik dengan suara lirih maupun dengan suara keras. Allahumma ya Allah, semoga semakin banyak manusia yang meraih hidayahMu.

Selasa, 15 April 2014

Hukum Perempuan yang Haid Masuk ke dalam Masjid

Haid menurut bahasa adalah mengalir sedangkan menurut syara’ adalah darah tabi’at yang keluar dari rahim seorang perempuan dengan jalan yang sehat  tidak karena melahirkan.  Adapun belajar ilmu tentang hukum-hukum haid itu wajib hukumnya bagi perempuan, begitu juga hukum-hukum tentang nifas dan istihadhah. Apabila suami dari perempuan tersebut mengerti tentang hukum-hukum haid maka wajib atas suaminya mengajari istrinya. Ketika sang suami tidak mengerti tentang hukum-hukum haid, nifas, dan istihadhoh maka bagi perempuan boleh keluar berguru kepada ulama’ dan haram bagi suaminya untuk mencegahnya kecuali sang suami bertanya kepada ulama’ kemudian mengajarkan ilmunya kepada istrinya.

Dalam kitab fathul qarib disebutkan delapan perkara yang haram bagi perempuan haid ;
1.       Sholat
2.       Puasa
3.       Membaca Alqur’an
4.       Memegang dan membawa mushaf
5.       Masuk masjid
6.       Thowaf
7.       Bersetubuh
8.       Bersenang-senang di antara pusar sampai lutut.
Pada poin kelima telah jelas disebutkan bahwasannya masuk masjid bagi perempaun yang haid adalah haram.
(ودخول المسجد) دخولها المسجد ان حصل معه جلوس او لبث ولوقائما اوترددت حرم عليها ذلك  (كفاية الاخيار ,الجوز الاول ص 88)
Masuknya perempuan dalam masjid saat duduk atau berdiam walaupun hanya berdiri atau mondar-mandir itu semua haram bagi perempuan. (Kifayatul akhyar juz 1 hlm. 88)

Dalam keterangan selanjutnya, yang disebutkan di atas diharamkan karena orang junub juga haram. Saat perempuan masuk ke dalam masjid hanya lewat saja maka diperbolehkan menurut qoul shohih. Terjadi khilaf (perbedaan ulama’) ketika perempuan aman tidak mengotori masjid seperti membalut dan menyumbat, ada yang mengatakan boleh ada pula yang mengatakan tidak boleh. Namun saat perempuan khawatir mengotori masjid maka haram tanpa khilaf. Imam Rafi’i dan selain beliau berkata ini (hukum masuk masjid) tidak khusus bagi orang haid saja tetapi juga bagi orang yang beser atau luka yang mengalir nanah dan khawatir mengotori masjid.
wallahu a'lam bisshowab

Senin, 07 April 2014

Biografi Habib Umar Bin Hafidz

Beliau ialah Habib Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abdullah putera dari Abi Bakr putera dari Aidarus putera dari Hussein putera dari Syeikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari Abdullah putera dari Abdul Rahman putera dari Abdullah putera dari Syeikh Abdul Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Dawilah putera dari Ali putera dari Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari Ali putera dari Muhammad Shahib Mirbat putera dari Ali Khali Qasam putera dari Alawi putera dari Muhammad putera dari Alawi putera dari Ubaidillah putera dari Imam al-Muhajir Ahmad putera dari Isa putera dari Muhammad putera dari Ali al-Uraidi putera dari Ja’far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari Ali Zainal Abidin putera dari Hussein sang cucu lelaki, putera dari pasangan Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah az-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w..
Beliau dilahirkan di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim. Ayahnya ialah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran Islam dan pengajaran hukum suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua datuk beliau, Habib Salim bin Hafiz dan Habib Hafiz bin Abdullah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan kondisi-kondisi yang sesuai bagi Habib Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan.
Beliau telah mampu menghafal al-Quran pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadis, bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin Alawi bin Shihab dan Syeikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da’wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan zikir.
Namun secara tragis, ketika Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk solat Jumaat, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahawa tanggungjawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang dakwah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum beliau mati syahid.
Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, dia memulai, secara bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk majlis-majlis dan dakwah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal al-Quran dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.
Dia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda.
Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang mulia Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama mazhab Syafie, Habib Zain bin Sumait, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya dia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Dia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang dakwah.
Kali ini tempatnya adalah al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul-Nya s.a.w pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing. Usaha beliau yang demikian gigih menyebabkannya kekurangan tidur dan istirahat mulai menunjukkan hasil yang besar bagi mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam, mengenakan serban/selendang Islam dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Sang Rasul Pesuruh Allah s.a.w..
Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah dipengaruhi beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan dakwah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini, beliau mulai mengunjungi banyak kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta’iz di utara, untuk belajar ilmu dari mufti Ta‘iz al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Habib Muhammad al-Haddar sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agungTak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul s.a.w di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari Habib Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan RasulNya s.a.w. dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni Habib Ahmad Mashur al-Haddad dan Habib Attas al-Habshi.
Sejak itulah nama Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikeranakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopularan dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan. tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah dalam berbagai manifestasinya, dan dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru.
Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman.
Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran di masa depan.
Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah. Dar-al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya pada murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis.
Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar. Mereka ini akan menjadi perwakilan dan penerus dari apa yang kini telah menjadi perjuangan asli demi memperbaharui ajaran Islam tradisional di abad ke-15 setelah hari kebangkitan. Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia serta menyediakan kesempatan bagi orang-orang awam yang kesempatan tersebut dahulunya telah dirampas dari mereka.
Habib Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya


Minggu, 06 April 2014

Ringkasan Ceramah oleh Habib Nauval Kamal Alaydrus

Ringkasan Ceramah oleh Habib Nauval Kamal Alaydrus (smg Allah menyayangi dan memuliakan beliau) tadi malam.

1. Anak muda zaman sekarang lebih suka mendengarkan artis, politisi dari pada mendengarkan nasihat ustadz, orangtua, dll karena tidak mau dianggap cupu, sehingga rusaklah moral mereka beliau mencontohkan perempuan tidak mau menutup aurat dengan baik, para laki-lai suka merokok, minum alkohol, meniru-meniru artis, pacaran sampai seks bebas, dll).

2. Salah satu hal yg bisa memperbaiki moral anak muda jaman sekarang yg sudah semakin buruk adalah dengan meningkatkan kecintaan kita pada Allah dan Rosulullah SAW. Dengan mencintai rosul dan menjadikan beliau sebagai idola kita, otomatis kita akan meneladani akhlak beliau, senang berkumpul di tempat-tempat yang beliau suka seperti Majlis Ta'lim, Dzikir dan Sholawat, menjalankan sunnah-sunnah beliau, dan bersholawat pada Nabi Muhammad SAW.

3. Allah SWT sangat membanggakan anak muda yg di masa mudanya dia mengenyampingkan hawa nafsunya jauh-jauh dan mengalihkannya ke penghambaan kepada Alah SWT. 


4. Bila kita benar-benar mencintai Allah SWT, maka kita seharusnya mencintai kalam-kalam Allah dalam Al Qur'an dengan membaca, mentadaburi, dan mengamalkannya.

4. Dalam suasana pemilu ini, semoga kita mampu memilih pemimpin yang amanah.
Semoga kita termasuk dalam golongan pemuda yang mencintai, dicintai, dan dibanggakan Allah SWT dan Rasulullah SAW, amiiin,,,

Mohon maaf bila banyak kekurangan atau ketidaktepatan. Smg bermanfaat utk yang semalam melewatkan pengajian tsb. Smg bisa sering2 diadakan kalau bisa di masjid Alhurriyah. Amiin

cc: @ilyatun niswah

Wajib Dibaca Menjelang Pemilu; Gus Dur Kaulah Pahlawan dan Teladanku

Muslimedianews ~ Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonoi orang Wonosobo. Saat itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU.

Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang.
Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo.

“Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai.

“Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur.

“Kok bisa Gus?”

“Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri ini di ambang kehancuran, di ambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan propinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.” kata Gus Dur.

Kiai tersebut sebagaimana biasa, kalau belum mulai bicara. Pak Habibi, kita semua akan merasa kasihan dengan sikap Gus Dur yang datar dan seperti capek sekali dan seperti aras-arasen bicara. Tapi kalau sudah mulai, luar biasa memikat dan ruangan jadi sepi kayak kuburan, tak ada bunyi apapun selain pangendikan Gus Dur.

Seorang kiai penasaran dengan calon presiden devinitif pengganti Pak Habibi yang hanya menjabat sementara sampai sidang MPR. Ia bertanya: “Gus, terus siapa yang paling pas jadi Presiden nanti Gus?”

“Ya saya, hehehe…” kata Gus Dur datar.

Semua orang kaget dan menyangka Gus Dur guyon seperti biasanya yang memang suka guyon.

“Yang bisa jadi presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi presidan walau sebentar hehehe...” kata Gus Dur mantab.

“Siapa yang ngabari dan yang nyuruh Gus?” tanya seorang kiai.

“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU,” kata Gus Dur masih datar seperti guyon.

Orang yang hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gus Dur yang demikian. Ditambah lagi masih ada stok orang yang secara fisik lebih sehat dan berambisi jadi presiden, yaitu Amin Rais dan Megawati. Tapi tidak ada yang berani mengejar pertanyaan tentang presiden RI.

Kemudian Gus Dur menyambung: “Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yang membahayakan, tapi yang memback up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yang dimotori Australia.”

Sejenak sang Kiai tertegun. Dan sambil membenarkan letak kacamatanya ia melanjutkan: “Tidak ada orang kita yang sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yang back up, GAM siapa yang ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa propinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya.”

Kemudiaan ia menarik nafas panjang dan melanjutkan: “Saya mau jadi presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yang menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langakah saya.”

Seakan mengerti raut wajah bingung para kiai yang menyimak, Gus Dur pun kembali selorohkan pemikirannya. “Jelasnya begini, tak kasih gambaran,” kata Gus Dur menegaskan setelah melihat semua hadirin tidak mudeng dan agak bingung dengan tamsil Gus Dur.

“Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan pemyelamat yang dielu-elukan.”

Kemudian lanjutnya: “Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalalah dia tangan kanannya yang lega. Terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.”

Lalu ia sedikit memajukan duduknya, sambil menukas: “Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yang baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.”

“Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau sebab di cegah maka musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yang waskito, yang tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yang mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yang merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.”

Sejenak semua jamaah mangguk-mangguk. Kemudian Gus Dur melanjutkan: “Tapi nanti yang terjadi adalah, orang yang membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: “Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana?” Pasti itu yang akan dikatakan orang itu.”

“Lalu misal ia memilih menghadang orang yang mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, Kita bilang: “Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok. Karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu.” Apa kata dia: “Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar? Lagian mana rumah terbakar?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir! saya mau lewat.”

Kini makin jelas arah pembicaraannya dan semua yang hadir makin khusyuk menyimak. “Nah, ini peran yang harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, Negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan popular, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yang berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: “Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi presiden.”

“Poro Kiai ingkang kinormatan.” kata Gus Dur kemudian. “Kita yang akan jadi presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yang kan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara. Dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yang singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri.”

“Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, presiden dan pimpinan-pimpinan negara yang simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama,” lanjut Gus Dur.

“Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yang bermarkas di Belanda, harus ada loby ke negara itu agar tak mendukung RMS. Juga negara lain yang punya kepentingan di Maluku,” kata Gus Dur kemudian.

“Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yang saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yang jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yang menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri.”

Kemudian Gus Dur menarik nafas berat, sebelum melanjutkan perkataan berikutnya. “Ini yang paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat. Jadi mohon para kiai dan santri banyak istighatsah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yang terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yang tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”

Sekonyong beliau berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya: “NKRI bagi NU adalah Harga Mati!”

“Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” tutup Gus Dur.

Tanpa memperpanjang dialog, Gus Dur langsung pamit. Kita bubar dengan benak yang campur-aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan visi Gus Dur. Antara realitas dan idealitas, bahwa Gus Dur dengan sangat tegas di hadapan banyak kiai bahwa dialah yang akan jadi presiden. Terngiang-ngiang di telinga kami dengan seribu tanda tanya.

Menghitung peta politik, rasanya gak mungkin. Yang terkuat saat itu adalah PDIP yang punya calon mencorong Megawati putri presiden pertama RI yang menemukan momentnya. Kedua, masih ada Partai Golkar yang juga Akbar Tanjung siap jadi presiden. Di kelompok Islam modern ada Amien Rais yang juga layak jadi presiden, dan dia dianggap sebagian orang sebagai pelopor Reformasi.

Maka kami hanya berpikir bahwa, rasional gak rasional, percoyo gak percoyo ya percoyo aja apa yang disampaikan Gus Dur tadi. Juga tentang tamsil rumah tebakar tadi. Sebagian besar hadirin agak bingung walau mantuk-mantuk karena gak melihat korelasinya NU dengan jaringan luar negeri.

Sekitar 3 bulan kemudian, Subhanallah… safari ke luar ternyata Gus Dur benar-benar jadi Presiden. Dan Gus Dur juga benar-benar bersafari ke luar negeri seakan maniak plesiran. Semua negara yang disebutkan di PCNU Wonosobo itu benar-benar dikunjungi. Dan reaksi dalam negeri juga persis dugaan Gus Dur saat itu bahwa Gus Dur dianggap foya-foya, menghamburkan duit negara untuk plesiran. Yang dalam jangka waktu beberapa bulan sampai 170 kali lawatan. Luar biasa dengan fisik yang (maaf) begitu, demi untuk sebuah keutuhan NKRI.

Pernah suatu ketika Gus Dur lawatan ke Paris (kalau kami tahu maksudnya kenapa ke Paris). Dalam negeri, para pengamat politik dan politikus mengatakan kalau Gus Dur memakai aji mumpung. Mumpung jadi presiden pelesiran menikmati tempat-tempat indah dunia dengan fasilitas negara.

Apa jawab Gus Dur: “Biar saja, wong namanya wong ora mudeng atau ora seneng. Bagaimana bisa dibilang plesiran wong di Paris dan di Jakarta sama saja, gelap gak lihat apa-apa, koq dibilang plesiran. Biar saja, gitu aja koq repot!”

Masih sangat teringat bahwa pengamat politik yang paling miring mengomentrai lawatan Gus Dur sampai masa Gus Dur lengser adalah Alfian Andi Malarangeng, Menpora yang sekarang kena kasus. Tentu warga NU gak akan lupa sakit hatinya mendengar ulasan dia. Sekarang terimalah balasan dari Tuhan.

Satu-satunya pengamat politik yang fair melihat sikap Gus Dur, ini sekaligus sebagai apresiasi kami warga NU, adalah Hermawan Sulistyo, atau sering dipanggil Mas Kiki. terimakasih Mas Kiki.

Kembali ke topik. Ternyata orang yang paling mengenal sepak terjang Gus Dur adalah justru dari luar Islam sendiri. Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha dll. mereka tahu apa yang akan dilakukan Gus Dur untuk NKRI ini. Negeri ini tetap utuh minus Timor Timur karena jasa Gus Dur. Beliau tanpa memikirkan kesehatan diri, tanpa memikirkan popularitas, berkejaran dengan sang waktu untuk mencegah kebakaran rumah besar Indonesia.

Dengan resiko dimusuhi dalam negeri, dihujat oleh separatis Islam dan golongan Islam lainnya, Gus Dur tidak perduli apapun demi NKRI tetap utuh. Diturunkan dari kursi presiden juga gak masalah bagi beliau walau dengan tuduhan yang dibuat-buat. Silakan dikroscek data ini. Lihat kembali keadaan beberapa tahun silam era reformasi baru berjalan, beliau sama sekali gak butuh gelar “Pahlawan”. Karena bagi seluruh warga NU “Beliau adalah Pahlawan yang sesungguhnya.”

Disadur dan diedit ulang dari tulisan Gus Theler Cuek (https://www.facebook.com/theler.cuek/posts/743645182347160).

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 06 April 2014

Rabu, 02 April 2014

KH Mas Alwi Abdul Aziz : Penyelidik Isu “Pembaharuan Islam” Dan Pencipta Nama “Nahdlatul Ulama”

KH. Mas Alwi (Songkok Hitam)
KH Mas Alwi Abdul Aziz[1]
Penyelidik Isu “Pembaharuan Islam” Dan Pencipta Nama “Nahdlatul Ulama”

Kyai Mas Alwi adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama bersama Kyai Abdul Wahhab Hasbullah dan Kyai Ridlwan Abdullah dan lainnya, yang ketiganya bergerak secara aktif sejak NU belum didirikan. Beliaulah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kyai Ridlwan Abdullah. Namun Kyai Mas Alwi hampir tak disebut dalam beberapa sejarah NU, hal ini dikarenakan beliau tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga, sebagaimana yang akan disampaikan nanti.

Kelahiran Kyai Mas Alwi
Tidak ada data yang pasti mengenai kelahiran Kyai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kyai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kyai yang bersahabat di masa itu, yakni Kyai Ridlwan Abdullah, Kyai Wahab Hasbullah dan Kyai Mas Alwi adalah orang-orang yang tidak terlalu jauh jaraknya dalam hal usia. Disebutkan bahwa di awal-awal berdirinya NU yakni tahun 1926, usia Kyai Ridlwan 40 tahun, Kyai Wahhab 37 tahun dan Kyai Mas Alwi 35 Tahun. Dengan demikian, Kyai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1890-an.
Kyai Mas Alwi merupakan putra Kyai Besar kala itu, yaitu KH Abdul Aziz yang masuk dalam keluarga besar Ampel, Surabaya. Saya juga belum menemukan data yang cukup mengenai masa kecil beliau dan silsilah keluarganya.

Pendidikan Kyai Mas Alwi
Ketiga kyai diatas, yakni Kyai Ridlwan Abdullah, Kyai Wahab Hasbullah dan Kyai Mas Alwi, bukan sosok yang baru bersahabat ketika mendirikan sekolah Nahdlatul Wathon, namun jauh sebelum itu, ketiganya telah bersahabat sejak berada di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.
Kyai Ridlwan mengisahkan kepada putranya Kyai Mujib bahwa Kyai Wahab dan Kyai Mas Alwi adalah dua kyai yang sudah terlihat hebat sejak berada di pondok, baik kecerdasan  dan kepandaiannya. Kyai Mujib kemudian menyebutkan bahwa dua kyai tersebut kemudian melanjutkan ke Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, kemudian ke Makkah termasuk juga Kyai Ridlwan Abdullah.


Perjuangan Kyai Mas Alwi
Kyai Mas Alwi bersama Kyai Ridlwan Abdullah, Kyai Wahab Hasbullah dan saudara sepupunya Kyai Mas Mansur, turut membidani berdirinya sekolah Nahdlatul Wathon, dan Kyai Mas Mansur lah yang menjadi kepala sekolah sebelum terpengaruh pemikiran pembaharuan Islam di Mesir yang akhirnya menjadi pengikut Muhammadiyah.
Namun, setelah tersiar kabar bahwa Kyai Mas Alwi ikut kerja dalam pelayaran, maka beliau dipecat dari sekolah tersebut, akan tetapi sepulang dari Eropa beliau diterima kembali mengajar di Nahdlatul Wathon, dan justru Kyai Mas Mansur yang akhirnya dipecat oleh para kyai karena telah terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh.

Berlayar Mencari Hakikat “Renaissance”
Saat merebaknya isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kyai Mas Mansur, adik sepupu Kyai Mas Alwi mempelajarinya ke Mesir, kepada Muhammad Abduh. Maklum, Mas Mansur adalah keluarga yang mampu secara finansial sehingga beliau dapat mencari ilmu ke Mesir. Sementara Kyai Mas Alwi bukan dari keluarga yang kaya. Oleh karenanya Kyai Mas Alwi berkata: “Apa sih yang sebenarnya dicari oleh Adik Mansur ke Mesir? Renaissance atau pembaharuan itu tempatnya di Eropa”. Maka beliau pun berusaha untuk mengetahui apa sebanarnya renaissance ke Eropa, saat itu beliau pergi ke Belanda dan Prancis dengan mengikuti pelayaran.
Di masa itu, orang yang bekerja sebagai pelayaran mendapat stigma yang sangat buruk dan memalukan bagi keluarga, sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk dan lain sebagainya. Sejak saat itulah keluarga Kyai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.
Setiba di tanah air, Kyai Mas Alwi dikucilkan oleh para sahabat dan tetangganya. Akhirnya Kyai Mas Alwi membuka warung kecil di daerah Jl. Sasak, dekat wilayah Ampel untuk berjualan memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui beliau datang, Kyai Ridlwan mendatanginya, lalu Kyai Mas Alwi berkata: “Kenapa Kang, sampean datang kesini, nanti sampean akan dicuci pakai debu sama kyai-kyai lainnya, sebab warung saya ini sudah dianggap mughalladzah?”
Kyai Ridlwan bertanya: “Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi pelayaran ke Eropa?”. Kyai Mas Alwi menjawab: “Begini Kang Ridlwan. Saya ini ingin mencari renaissance, apa sih sebenarnya renaissance itu? Lah, Adik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari renaissance itu salah, sebab tempatnya renaissance itu ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Din Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini...” (maksudnya adalah kembali ke al-Quran-Hadis, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)
Beliau melanjutkan: “Renaissance yang ada di Mesir itu sudah tidak murni lagi Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan dalam Islam, apanya yang mau diperbaharui, Islam itu sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang diperbaharui. Al-Quran sudah jelas menyatakan:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً ﴿المائدة : ٣﴾
“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (al-Maidah: 3)
Inti dari perjalanan beliau ke Eropa adalah menemukan hakikat renaissance yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kyai Ridlwan bertanya: “Dari mana sampean tahu?” Kyai Mas Alwi: “Karena saya berhasil masuk ke tempat-tempat perpustakaan di Belanda”. Kyai Ridlwan bertanya lebih jauh: “Bagaimana caranya sampean bisa masuk?” Kyai Mas Alwi menjawab: “Dengan menikahi wanita Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya”.
Setelah Kyai Mas Alwi menyampaikan perjalanan beliau ke Eropa secara panjang, maka Kyai Ridlwan berkata: “Begini Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini”. Kyai Mas Alwi menjawab: “Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam”. Kyai Ridlwan berkata: “Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke sekolah Nahdlatul Wathon. Sebab saya sekarang sudah tidak ada yang membantu. Kyai Wahab sekarang lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya”.
Di pagi harinya, sebelum Kyai Ridlwan sampai di sekolah, ternyata Kyai Alwi sudah ada di sekolah Nahdlatul Wathon. Kyai Ridlwan berkata: “Kok sudah ada disini?” Kyai Alwi menjawab: “Ya Kang Ridlwan, tadi malam saya tawarkan warung saya ternyata laku dibeli orang. Makanya uangnya ini kita gunakan untuk sekolah ini”. Kedua kyai tersebut kemudian kembali membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon.

Nama “Nahdlatul Ulama”
Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kyai As’ad Syamsul Arifin bahwa sebelum 1926 Kyai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat oraganisasi Jam’iyah Ulama, atau perkumpulan ulama. Saat didirikan dan mau diberi nama, para kyai berpendapat dan mengusulkan nama-nama yang berbeda. Namun Kyai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Kyai Hasyim bertanya: “Kenapa ada Nahdlah, kok tidak Jamiyah Ulama saja?” Kyai Mas Alwi menjawab: “Karena tidak semua kyai memiliki jiwa Nahdlah (bangkit). Ada kyai yang sekedar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jamiyah”. Akhirnya para kyai menyepakati nama Nahdlatul Ulama.

Makam Kyai Mas Alwi
Belum ditemukan pula data tentang kapan Kyai Mas Alwi wafat, yang jelas saat ini makam beliau terletak di pemakaman umum di Rangkah, yang sudah lama tak terawat bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah kuburan umum. Saat itu KH Asep Saefuddin, Ketua PCNU Kota Surabaya 1995-2000, mengerahkan Banser untuk menertibkan rumah-rumah yang merambah ke makam Kyai Mas Alwi, maka sejak saat itu makam beliau mulai dibangun dan diberi pagar. Sejak saat itu pula dalam setiap Harlah NU, Pengurus Cabang NU Kota Surabaya kerap mengajak MWC dan Ranting se Surabaya untuk ziarah ke makam para Muassis khususnya di wilayah Surabaya.
Pertanyaannya, mengapa beliau dimakamkan di pemakaman umum? Tidak ada jawaban pasti, namun kemungkinannya karena beliau telah dikeluarkan dari silsilah keluarga beliau.
Beberapa bulan yang lalu ada sebagian pembaca Aula yang mengusulkan agar makam beliau dipindah ke kawasan Ampel. Berita ini telah diterima oleh PCNU Surabaya dan akan ditindaklanjuti. Tetapi seandainya prosesnya menemukan jalan buntu, maka PCNU akan berencana memindah makam beliau ke kawasan makam Jl. Tembok, diletakkan di sebelah makam sahabatnya, Kyai Ridlwan Abdullah. Di area makam tersebut telah dikebumikan beberapa tokoh NU, diantaranya adalah KH Abdullah Ubaid dan KH Thohir Bakri (dua tokoh pendiri Ansor), Kyai Abdurrahim (salah satu pendiri Jamqur atau Jamiyah Qurra’ wal Huffadz), Kyai Hasan Ali (Kepala logistik Hizbullah), Kyai Amin, Kyai Wahab Turham, Kyai Anas Thohir, Kyai Hamid Rusdi, Kyai Hasanan Nur dan sebagainya.

Sosok Besar Yang Terlupakan
Masing-masing para Muassis memiliki kiprah besar dalam berdirinya Nahdlatul Ulama. Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari adalah Rais Akbar, ulama besar dan telah merumuskan Qanun Asasi bagi NU. Kyai Wahab Hasbullah adalah penggerak utama Jamiyah NU, yang telah berhasil menyamakan pandangan ulama Nusantara akan pentingnya Jamiyah bagi para ulama, beliau pula yang telah menata organisasi ini dengan baik dan mampu meneruskan sepeninggal KH Hasyim Asy’ari.
Kyai Bisri Syansuri juga ulama besar dan keahliannya di bidang fikih tidak diragukan, beliau pula yang telah meneruskan kepemimpinan Syuriah sepeninggal Kyai Wahhab Hasbullah. Kyai lain yang sangat penting juga adalah Kyai Ridlwan Abdullah, yang menciptakan lambang NU dengan hasil istikharahnya sekaligus mampu menjelaskan makna simbol-simbol lambang NU di hadapan penjajah Belanda saat Congres I NU di Surabaya, sehingga Belanda membatalkan untuk membubarkan NU jika saja simbol lambang NU mengarah pada perlawanan Belanda.
Tidak kalah besar kiprahnya adalah Kyai Mas Alwi. Beliaulah yang menemukan akar masalah utama mengapa Jamiyah Ulama (yang akhirnya bernama NU) harus didirikan, yaitu adanya isu pembaharuan yang sebenarnya dihembuskan dari dunia Barat. Pengorbanan beliau dalam masalah ini tidak main-main, yakni menanggung resiko besar harus dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun beliau tetap melanjutkan tekadnya tersebut. Kyai Mas Alwi pula yang telah mengusulkan nama “Nahdlah” dalam organisasi ulama ini. Bisa kita bayangkan besarnya nama “Nahdlatul Ulama” dengan sekedar nama Jamiyah Ulama.
Wa akhiran, sudah selayaknya kita selalu menyebut nama Kyai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lainnya disebut. Semoga Allah menjadikan perjuangan Kyai Mas Alwi dan Muassis lainnya sebagai perjuangan jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Amin.


[1] Ditulis oleh Ma’ruf Khozin, Wakil Katib Syuriyah NU Kota Surabaya dan Anggota LBM PWNU Jatim. Riwayat ini berdasarkan kisah langsung dari Gus Sholahuddin Azmi, putra Kyai Mujib Ridlwan dan cucu Pendiri NU Kyai Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU) .


 
Hadirilah Kegiatan Rutinan KMNU IPB "Untuk Umum" Pengajian Kitab Kuning setiap jum'at 19.00 di Node AGH Lantai 2 dan Pembacaan Sholawat Maulid Ad-Dibai setiap Sabtu malam Ba'da Isya Di Mushola Al Ikhlas DR, Hub: Slamet (085697568465), Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk mengikuti Majelis Ilmu dan Sholawat, Amiin.