KMNU IPB

Bangkitlah NU Ku, Hijaulah Kampus Ku, Sejahterahlah Bangsa Ku

Majlis Sholawat Maulid Ad-Diba'i KMNU IPB

Majlis Sholawat Maulid Ad-Diba'i merupakan kegitan rutinan "untuk UMUM" setiap sabtu malam yang diadakan setelah sholat Isya' di Musholla Al-Ikhlas dan khusus sabtu malam diawal bulan diadakan di Masjid Al-Wustho Babakan Tengah. Cp : Ersyad (085641055065)

Tim Hadroh KMNU IPB

Tim Hadroh ini dibentuk sebagai rasa cinta untuk bershalawat atas baginda Rosul SAW dan melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah yang mulai terkikis. untuk itu Tim Hadroh KMNU IPB dapat diundang dan tampil untuk memeriahkan disetiap kegiatan keagamaan maupun non-keagamaan baik pengajian maupun seminar dilingkunga IPB dan Bogor. Cp: Hasan (085740955532)

Wasiat K.H.R As'ad Syamsul Arifin

Mari kita berpegang teguh kepada para ulama dan melakukan apa yang diwasiatkan

Syair Cinta Tanah Air (Mars Syubbanul Wathan)

Syair penggugah semangat untuk berjuang dan cinta Tanah Air

Minggu, 07 September 2014

Kunci Menuju Jalan Kehidupan Akhirat

Catatan kecil ditemani gerimis hujan
Bogor, 12 Dzulqo’dah 1435 H @Majlis Ta’lim Darul Futuh

Bismillahirrohmaanirrohiim..
Alhamdulillahirabbil’aalamiin..
Allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa aalihii wa ashhaabihi ajma’iin..

والمانع من السلوك عدم الارادة والمانع من عدم الارادة عدمالايمان

“…Penghalang dari jalan (menuju akhirat) adalah tidak adanya kehendak (mencari jalan) dan penghalang tidak adanya kehendak adalah tidak adanya iman.”
Demikian sepenggal maqolah pembuka pada Tamami (Ta’lim Malam Minggu) di Darul Futuh semalam. Kunci seorang muslim menuju jalan kehidupan akhirat adalah adanya keinginan untuk mencari jalan tersebut. Adapun keinginan (irodah) untuk bersuluk tergantung dengan iman seseorang. Tahapan orang bersuluk yaitu ingat-sadar-berkeinginan-suluk. Pertama seseorang ingat akan kebutuhan bekal di akhirat. Kedua, ia sadar bahwa apa yang dilakukannya di dunia dibalas di akhirat kelak, baik amal kebaikan maupun maksiat yang ia lakukan selama hidup. Berangkat dari kesadaran inilah, seseorang akan muncul keinginan untuk bertaubat dan memperbaiki diri untuk bekal kehidupan akhirat nantinya. Setelah muncul keinginan, tahap selanjutnya yaitu bersuluk, mencari jalan menuju kehidupan akhirat. Dalam bersuluk, akhirat dipandang dengan mata hati bukan mata dhahir, sebagaimana perkataan Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghozali, “Barangsiapa memandang akhirat dengan mata hatinya yang mana pandangannya tersebut penuh dengan keyakinan, maka hidupnya akan meraih kesakinahan.”  Dengan demikian, mutlak untuk memandang akhirat dengan penuh keyakinan (Ingat Al Baqarah ayat 3). Pertanyaan kemudian yang muncul, bagaimana kita bisa yakin jika tidak belajar pada ahli yakin? Itulah mengapa pentingnya berguru, menuntut ilmu pada ulama sholihinas shiddiiqiin.

Akan tiba suatu masa dimana kaum di masa tersebut enggan mengunakan akal untuk berfikir dan hanya mengedepankan syahwatnya. Hal ini mulai Nampak di zaman sekarang ini, semakin bertambahnya waktu manusia beserta akhlaknya semakin rusak. Maka penting untuk memelihara akhlaq sejak dini dimulai dari lingkup rumah tangga keluarga.

Jawaban salah satu pertanyaan jamaah>>
Beberapa hal yang mempengaruhi kecenderungan seorang anak nantinya, apakah cenderung pada dunia ataukah akhirat:
    1.     Makanan yang diberikan orang tuanya. Makanan yang diberikan haruslah halal dan niatkan untuk kebutuhan akhirat nanti.
     2.     Proses ‘pembuatan’ (saat bapak-ibu berjima’), usahakan jangan sampai lupa untuk berdoa. Minimal membaca doa Allohumma jannibnasy syaithon wa jannibasy syaiton maa rozaqnaa.
    3.     Saat masa kehamilan, niatkan segala hal yang dilakukan ayah dan ibu untuk kebaikan sang anak. Tips: jika memasuki umur kandungan 4 bulan, mencari gambar atau foto Ulama (Orang Sholeh),  kemudian sering-seringlah berkirim fatihah untuk sang alim tersebut dengan niatan tabarruk. Insya Alloh barokah.
      4.     Pemberian nama, harapan dan keinginan orang tua yang terselip dalam nama sang anak akan mempengaruhi perjalanan hidup anak nantinya. Jadi, jangan remehkan pemberian nama pada seorang anak karena nama adalah doa dari kedua orang tua untuk sang anak.
  
Wallohu a’alam
Demikian coretan kecil saat mengaji. Semoga bermanfaat.
  

-احب الدين-
  



Sabtu, 06 September 2014

Lirik Syair Nahdliyin (NU)

lirik Syair Nahdliyin (NU) - Habib Syech 



*Koor:
Sholatulloh salamulloh * 'ala thoha rosulillaah
Sholatulloh salamulloh * 'ala yaasiin habibillah
Tawasalna bibismillah * wabilhadi rosulillah
Wakulli muja hidillillah * bi ahlil badri ya alloh
Ilaahi sallimil 'ummah * minal afati wanniqmah
Wamin hammin wamin ummah * bi ahlil badri ya alloh
*Koor
Tahun 26 laire NU
Ijo-ijo benderane NU
Gambar jagad simbole NU
Bintang songo lambange NU
*Koor
Suriyah 'ulama'e NU
Tanfidziyah pelaksana NU
GP Anshor pemuda NU
Fatayat pemudi NU
*Koor
Nganggo usholli sholate NU
Adzan pindo jum'atane NU
Nganggo qunut subuhane NU
Dzikir bareng amalane NU
*Koor
Tahlilan hadiahe NU
Manaqiban washilahe NU
Wiridan rutinane NU
Maulidan sholawatane NU
*Koor
(kadang ditambahin syair ini juga)
Repote dadi pedagang
Sholate digawe gampang
Opo meneh dagangane laris
Durung sholat ngakune uwis
Repote dadi petani
Sholate terkadang lali
Opo meneh wayahe tandur
Sholate diundur-undur
Repote wong nggarap sawah
Sholate sawayah-wayah
Opo meneh wayahe panen
Sholate ora tau kopen
Repote dadi pejabat
Sholate terkadang telat
Opo meneh wayahe rapat
Sholate diloncat-loncat
*Koor 
SHOLAATULLOH SALAMULLOH 'ALAA THOHA ROSULILLAH
SHOLAATULLOH SALAMULLOH 'ALAA YAASIIN HABIBILLAH

Senin, 01 September 2014

Kata Siapa Bermahdzab Tidak Penting?

Ada seorang mahasiswa UI curhat dipaksa seniornya untuk tidak bermadzhab. Akhirnya ia bertanya kepada KH. Abdi Kurnia Djohan, salah satu dosen di Universitas Indonesia (UI): “Apakah bermadzhab itu tidak penting Ustadz?”
Dijawab dengan ilustrasi: “Coba kamu perhatikan kitab Fathul Bari yang ditulis sebanyak 13 jilid itu.”
Mahasiswa itu bertanya lagi: “Ya Ustadz, terus apa hubungannya Ustadz?”
“Apakah semua kata yang ditulis Imam Ibnu Hajar di situ beliau anggap penting?” Kyai Abdi balik tanya.
“Iya Ustadz.”
KH. Abdi Kurnia Djohan kemudian berkata: “Imam Ibnu Hajar tidak akan menulis keterangan di kitab itu kalau beliau tidak menganggap penting. Lalu siapa yang menganggap semua keterangan Imam Ibnu Hajar tidak penting?”
Mahasiswa: “Orang yang tidak membaca kitab itu tentunya, Ustadz.”
“Nah begitulah kebanyakan orang yang menganggap bermadzhab tidak penting, karena mereka tidak pernah belajar fikih madzhab. Mereka sama keadaannya seperti orang bodoh yang tidak mau membaca. Itulah juga yang jadi alasan al-Albani berpendapat tidak penting bermadzhab. Karena ia tidak tuntas belajar fikih madzhab Hanafi dari ayahnya.” Pungkas KH. Abdi Kurnia Djohan.
Seorang ulama dan pejuang Ahlussunnah wal Jama’ah asal Syria, asy-Syahid Syaikh M. Said Ramadhan al-Bhuthi pernah mengatakan: “Kita umat Islam saat ini merasakan nikmatnya bermadzhab 4 Ahlussunnah tidak lain karena perjuangan pendahulu orang ini (sambil menunjuk ke arah Pak As’ad Said Ali/Wakil Ketua Umum PBNU, maksudnya adalah perjuangan ulama NU).”

Pernyataan Syaikh al-Buthi di atas diriwayatkan dari al-Ustadz Ma'ruf Khozin, aktifis NU di Surabaya, yang sanadnya bersambung dan perawinya terpercaya.


HABIB HUSEIN BIN MUHAMMAD AL-HABSYI : MEMBACA BURDAH 1x LEBIH AFDHOL DARIPADA MEMBACA DALAIL KHOIROOT 70X

HABIB HUSEIN BIN MUHAMMAD AL-HABSYI (SAUDARA HABIB ALI AL-HABSYI SHOHIBUL MAULID SHIMTUDDUROR) BIASA MEMIMPIKAN DALAIL KOIROOT DI MAKKAH mimpi Rasulullah saw seraya bersabda bahwa MEMBACA BURDAH 1x LEBIH AFDHOL DARIPADA MEMBACA DALAIL KHOIROOT 70X
Burdah artinya mantel dan juga dikenal sebagai Burdah yang berarti shifa (kesembuhan). Imam Busyiri adalah seorang penyair yang suka memuji raja-raja untuk mendapatkan uang. Kemudian beliau tertimpa sakit faalij (setengah lumpuh) yang tak kunjung sembuh setelah berobat ke dokter manapun.
Tak lama kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah S.A.W. yang memerintahkannya untuk menyusun syair yang memuji Rasulullah. Maka beliau mengarang Burdah dalam 10 pasal pada tahun 6-7 H. Seusai menyusun Burdah, beliau kembali mimpi bertemu Rasulullah yang menyelimutinya dengan Burdah (mantel). Ketika bangun, sembuhlah beliau dari sakit lumpuh yang dideritanya.
Qoshidah Burdah ini tersebar ke seluruh penjuru bumi dari timur ke barat. Bahkan disyarahkan oleh sekitar 20 ulama, diantaranya yang terkenal adalah Imam Syaburkhiti dan Imam Baijuri.
Habib Husein bin Mohammad Alhabsyi (saudara Habib Ali Alhabsyi sohibul maulid Simtud Duror) biasa memimpin Dalail Khoiroot di Mekkah. Kemudian beliau mimpi bertemu Rasulullah yang memerintahkannya untuk membaca Burdah di majlis tersebut. Dalam mimpi tersebut, Rasulullah bersabda bahwa membaca Burdah sekali lebih afdol daripada membaca Dalail Khoiroot 70 kali.
Ketika Hadramaut tertimpa paceklik hingga banyak binatang buas berkeliaran di jalan, Habib Abdulrahman Al Masyhur memerintahkan setiap rumah untuk membaca Burdah. Alhamdulillah, rumah-rumah mereka aman dari gangguan binatang buas. Beberapa Syu’araa (penyair) di zaman itu sempat mengkritik bahwa tidaklah pantas pujian kepada Rasulullah dalam bait-bait Burdah tersebut diakhiri dengan kasroh/khofadz. Padalah Rasulullah agung dan tinggi (rofa’). Kemudian Imam Busyiri menyusun qoshidah yang bernama Humaziyyah yang bait-baitnya berakhir dengan dhommah (marfu’).
Imam Busyiri juga menyusun Qoshidah Mudhooriyah. Pada qoshidah tersebut terdapat bait yang artinya,“Aku bersholawat kepada Rasulullah sebanyak jumlah hewan dan tumbuhan yang diciptakan Allah. Kemudian dalam mimpinya, beliau melihat Rasulullah bersabda bahwa sesungguhnya malaikat tak mampu menulis pahala sholawat yang dibaca tersebut.
Habib Salim juga bercerita tentang seseorang yang telah berjanji kepada dirinya untuk menyusun syair hanya untuk memuji Allah dan Rasulullah. Suatu ketika ia tidak mempunyai uang dan terpaksa menyusun syair untuk memuji raja-raja agar mendapat uang. Ia punmimpi Rasulullah berkata, ”Bukankah engkau telah berjanji hanya memuji Allah dan Rasul-Nya?! Aku akan memotong tanganmu.”
Kemudian datanglah Sayidina Abubakar r.a. meminta syafaat untuknya dan dikabulkan oleh Rasulullah. Ketika ia terbangun dari tidurnya, ia pun langsung bertobat. Kemudian ia melihat di tangannya terdapat tanda bekas potongan dan keluar cahaya dari situ.
Habib Salim mengatakan bahwa Burdah ini sangat mujarab untuk mengabulkan hajat-hajat kita dengan izin Allah. Namun terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi. Yaitu mempunyai sanad ke Imam Busyiri, mengulangi bait ” maula ya solli wa sallim “, berwudhu, menghadap kiblat, memahami makna bait-bait, dibaca dengan himmah yang besar, beradab, memakai wewangian.
WALLAHU'ALAM

NU Dulu Dan NU Sekarang

KH. Abdul Muchith Muzadi, murid langsung Hadlratus-Syaykh KH. Hasyim Asy’ari, yg pernah menjadi sekertaris Rais Amm KH. Ahmad Siddiq, yg juga merupakan kakak kandung KH. Hasyim Muzadi, siang ini hadir dalam acara Sarasehan Ulama dan Cendekiawan di Pesantren Mahasiswa al-Hikam, Depok. Beliau yg diberi kesempatan berbicara sebentar di forum yg dihadiri oleh 34 PWNU seluruh Indonesia itu menuturkan beberapa hal menarik sebagai berikut:

Saya itu sudah menyandang berbagai jabatan di NU. Sekarang ini saya menjadi anggota Mustasyar PBNU. Nah, biasanya di NU itu kalau orang sudah di-mustasyarkan berarti sudah tidak terpakai lagi... Dan tugas mustasyar itu memberi nasehat. Eh, sekarang kalau ketemu Syuriah atau Tanfidziyah, malah saya yg dinasehati... Hahaha.
Desember ini insya Allah umur saya 90 tahun. Lha kemarin waktu di pesawat pramugarinya bertanya: “Ada urusan apa, kok mau sampai repot2 ke Jakarta, pak?!” Saya jawab: “Ada urusan di Jakarta.” Tentu kalau saya terangkan “NU”, dia gak paham. Tapi dalam hati saya bilang, saya ke Jakarta karena ada suatu urusan yg saya ada di dalamnya, yaitu Nahdlatul Ulama!”

Saya menjadi anggota NU sejak tahun 1941. Proses pendaftaran menjadi anggota tidak mudah karena harus mengajukan permohonan ke Pengurus Ranting. Pengajuan tersebut kemudian dibahas di kepengurusan NU tingkat Majelis Wakil Cabang (MWC), Cabang, Wilayah hingga diterima oleh Pengurus Besar. Jadi dari sejak awal mendaftar hingga diterima sebagai anggota prosesnya lama, kira2 3-4 bulanan. 
Sebelum diterima sebagai anggota, pendaftar akan dipanggil dan diwawancarai oleh Pengurus Ranting. Saya dulu kebetulan dipanggil oleh Pengurus Ranting Tebu Ireng. Singkat cerita, akhirnya saya diterima sebagai anggota NU dan diberi kartu anggota yg ditandatangani oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, selaku Pengurus Besar. Kenapa kok harus mendaftar? Ya, karena supaya bisa dilihat, apakah orang itu pengen betul jadi NU atau tidak?! Kalau sekarang, orang mudah saja ngaku NU. Bahkan kadang gak ditanya saja, sudah pada ngaku NU sendiri, hehe. 

Saya sendiri pernah bertanya kepada KH. Ahmad Siddiq: “Kok bisa jadi Rois Amm itu, sampeyan (menjadi anggota NU) dari Ranting mana?” Beliau menjawab: “Sampeyan pertanyaannya kok aneh2. Pokoknya saya itu Rois Amm. Lha, sampeyan mengakui apa tidak?!” Hehe. Ya, tentu saya mengakui (beliau sebagai Rois Amm). Bagaimana mungkin saya tidak mengakui, lha wong NU se-Indonesia saja mengakui beliau, tapi ya gimana ya...???

Jadi menurut saya, masuk NU itu sulit dan tidak gampang. Dan setelah masuk, lebih sulit lagi, karena setiap bulan harus membayar iuran menjadi anggota 25 sen, dan iuran bulanan sebesar 10 sen. 10 sen itu kalau menurut nilai kurs sekarang kira2 sama dengan gula 2 kg, atau sebesar 20 ribu rupiah...
Belum lagi setiap bulan harus ikut kumpul laylatul-ijtima’, alias night club. Hehe. Lho iya, kan. Night itu malam, club itu kumpulan... Kalau gak ikut, nanti dicatat. Nah sekarang, gak usah pakai iuran, dan gak ikut laylatul-ijtima’ segala... Itulah bedanya NU dulu dan NU sekarang... Jadi ketika saya tahu masuk NU itu tidak gampang, maka setelah masuk pun saya ingin berbuat yg baik untuk NU.
Dulu sebagai anggota NU, setiap orang ada harganya. Nggak peduli jabatannya di luar apa: apa itu lurah, atau apa. Tapi kalau sudah jadi anggota NU, ya harus manut dg Pengurus Ranting NU. Pengurus Ranting juga harus tahu siapa saja anggotanya. Anggota juga harus tahu siapa yg menjadi Pengurus Rantingnya. Kalau pengurus dan anggota Ranting sudah saling mengenal, tentu akan semakin mudah dalam memperbaiki dan mengembangkan NU. Kalau tidak, ya bagaimana mungkin?! Inilah yg seharusnya didandani (dibenahi).

Yg sekarang terjadi, mencari pengurus yg baca AD/ART NU saja sudah merupakan barang langka. Sebelum menjadi pengurus, semua orang pengennya ndandani NU. Padahal, bagaimana mungkin pengurus bisa ndandani NU, bila dia tidak membaca AD/ART NU?! 
Demikian halnya, bagaimana mungkin seseorang menjadi anggota NU, jika dia sendiri tidak tahu bedanya menjadi anggota NU dan bukan anggota NU. Maksudnya, sebagai anggota, seseorang mestinya tahu kewajiban2nya sebagai anggota NU, melebihi orang2 yg belum NU, atau yg hanya merasa dirinya NU


Oleh : Hilmy Muhammad

Jumat, 15 Agustus 2014

Wisata Religi dan HBH KMNU IPB Regional Daerah 2014

KMNU IPB Regional Jawa Timur dan Jawa Tengah pada tanggal 3-6 Agustus 2014 telah mengadakan acara wisata religi dan halal bi halal regional. Acara tersebut merupakan acara rutin tahunan yang diadakan saat libur semester, bertujuan untuk merperkokoh hubungan internal anggota antar daerah, serta memperluas wawasan dan hubungan eksernal dengan para ulama dan tokoh NU diluar kampus.

Di Jawa Tengah, acara diadakan pada tanggal 3-4 Agustus 2014.  Pada hari pertama bersilaturrhami ke komplek Ponpes Raudhltul Tholibin, Rembang dengan sowan ke kediaman KH.Musthofa Bisri (Gus Mus), Gus Yahya dan Gus Adib. Di Gus Mus KMNU IPB meminta doa untuk kebaikan KMNU IPB dan bersama. Kemudian di kediaman Gus Yahya, beliau memberikan wejangan bagi KMNU IPB untuk memperluas jaringan (network) antar perguruan tinggi. Di kediaman Gus Adib, beliau lebih  memberikan strategi dakwah untuk lebih mempopulerkan NU di kampus.

Hari kedua dilanjut silaturrahmi ke KH.Maimun Zubair, Sarang, jawa Tengah. Silaturrahmi tersebut selain ditujukan unuk mempererat tali persaudaraan sekaligus bentuk takdim kepada para guru dan tokoh-tokoh NU. Agar ilmu, do’a, dan keberkahan terus mengalir. Pada kesempatan ini, KMNU IPB melakukan perjalanan bersama teman-teman dari STAN dan alumni Roudlatul Tholibin.

Di Jawa Timur, acara dilaksanakan pada tanggal 4-6 Agustus 2014 dengan kota tujuan Lamongan, Surabaya dan Malang. Hari pertama bertempat di kota bahari, Lamongan, rombongan transit terlebih dahulu di rumah mantan ketua KMNU tahun 2012 M.Zimamul Adli. Kemudian dilanjut berwisata religi dengan berziarah ke makam para wali dan masyaikh antara lain makam Sunan Drajat, Sunan Sendhang, dan Syeikh Maulana Ishaq. Menjelang malam, rombongan disambut hidangan khas lebaran dan Lamongan sembari berdiskusi singkat tentang skema pengkaderan di rumah salah satu Staf divisi PSDM, Hamdan Ubaidillah.

Hari kedua, rombongan dari Lamongan berhijrah ke Surabaya dengan tujuan Kantor PCNU Surabaya.  Di Kantor PCNU disambut oleh ustadz Ma’ruf, Ustadz taufik, dan Gus Udin (Cucu KH.Ridwan). Setelah beramah-tamah dengan guyonan khas NU, Gus Udin menceritakan sejarah berdirinya NU versi asli KH.Ridwan yang berawal dari 4 tokoh masyhur, yakni KH.Ridwan, KH.Mas ‘Alwi, KH.Wahab Hasbullah, dan KH.Mas Mansyur.  Menjelang siang, rombongan berziarah ke makam para tokoh tersebut, antara lain KH.Mas ‘Alwi dan KH.Ridwan. Kemudian diakhiri dengan diskusi lanjutan, berisi nasehat untuk para pemuda dalam menjaga dan memperjuangkan NU di Kampus dan Masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Taufiq menegaskan bahwa untuk memahami NU tidak cukup belajar dari buku, melainkan harus terlibat langsung dan mencari dari para tokohnya. Gus Udin menambahkan bahwa ada 3 syarat untuk para pengurus NU, yakni ikhlas, amanah dan kober (Sempat). Dan terakhir, ustadz Ma’ruf berpesan jangan hanya urip (Hidup) di NU, tapi urip-uripilah (Hidupkanlah) NU. Acara ditutup setelah sholat ashar berjamaah.


Hari Ketiga, Sebagian rombongan melanjutkan perjalanan ke Malang untuk bersilaturrahmi dengan alumni dan sowan ke kediaman KH.Muchit Muzadi.

Perjalanan dari para kader muda NU ini akan terus berlanjut untuk mendapatkan pelajaran dan pengalaman langsung dalam kehidupan NU, mengumpulkan sepenggal-penggal sejarah, ilmu dan wawasan untuk disusun menjadi satu rangkaian peristiwa. Semoga perjalanan ini menginspirasi dan memotifiasi para kader muda NU lain di nusantara, dan bermanfaat bagi kita semua Amiin.

Kontributor : Lum'atul

Jumat, 18 Juli 2014

Ramadhan Berbagi : Santunan Anak Yatim dan Buka Bersama KMNU IPB


Bulan ramadhan merupakan bulan penuh ampunan dan rahmat dimana pahala-pahala ibadah dilipat gandakan oleh Allah SWT. Tak hanya itu,  bonus-bonus ibadah pun berlimpah baik ibadah wajib maupun sunnah. Tentu hal ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan tabungan amal kita untuk bekal kelak. Tak heran jika saudara-sauadara kita  berlomba-lomba mendapatkan bonus tersebut. Begitu pula  yang dilakukan oleh sebuah organisasi kecil namun luar biasa yang berada di tengah-tengah kampus yang besar nan indah ini. Ya, sebut saja Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama atau lebih dikenal dengan KMNU IPB. Keluarga yang tidak pernah luput semangat dalam kesehariannya, yang selalu nyaring dengan sholawatnya tak ingin ketinggalan mendapat pahala dan bonus di bulan berkah ini. Dengan niat menolong sesama,  berbagi kecerian, dan lillahi ta’ala, KMNU IPB mengadakan sebuah acara yang jika dinilai insyaAllah mendapat bonus yang banyak dari Allah SWT, Aamiin.. 

Kegiatan tersebut berupa santunan terhadap anak-anak  yatim yang berada di sekitar sekretariat KMNU IPB yang terletak tak jauh dari kampus, yaitu desa Cangkurawok, Dramaga, Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari ke-14 ramadhan tepatnya hari sabtu, 12 juli 2014 pada pukul 16.00-19.00 WIB, di masjid Syamsul Huda Cangkurawok. Adapun rangkaian acara yang melibatkan 31 anak yatim ini dimulai dengan pembukaan yang dipandu oleh MC : Ibnu Mubarok, yang kemudian dilanjut dengan tahlil yang dipimpin oleh ta’mir masjid yaitu almukarrom bapak Muchtadin. Ketua pelaksana acara ini , Muhammad Fatah Yasin, lantas memberikan sambutan singkat yang insyaAllah penuh manfaat, dimana dalam sambutannya berisi bahwa  acara ini bertujuan untuk berbagi kebahagiaan di bulan suci ramadhan bersama anak yatim dan masyarakat sekitar yang mudah-mudahan mendapat ridho Allah. Selain itu sang ketua pelaksana juga memperkenalkan kakak-kakak asuh bagi anak-anak yatim dan memberi pesan kepada kakak-kakak asuh agar dapat membimbing adik-adiknya juga agar dapat saling mengenal antara kakak asuh dan adik asuh maupun sesama adik asuh. Adanya pembagian kakak asuh dan adik asuh ini dikarenakan kegiatan ini akan dilanjutkan dengan pembimbingan dan pembinaan terhadap anak-anak yatim tersebut dalam hal pengabdian masyarakat. 

Setelah sambutan dari ketua pelaksana, anak-anak diberikan kesempatan untuk berkumpul dengan kakak asuhnya masing-masing dengan tujuan untuk dapat mengenal dan berbagi cerita. Hampir semua anak-anak tersebut antusias untuk berkumpul bersama kakak asuh mereka. Sambil menunggu adzan magrib adik-adik asuh dibawa ke dalam suasana yang riang gembira oleh seorang pemandu game yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Sebut saja Jayat, salah satu anggota KMNU yang humoris dan puitis tapi kurang romantis. Dengan serunya dia mengajak adik-adik untuk dapat mengingat pelajaran-pelajaran yang telah didapat. Siapa yang dapat menjawab pertanyaannya dan berani maju ke depan maka  anak tersebut berhak menerima hadiah darinya. Adapun pertanyaannya berupa bacaan surat al-ikhlas, do’a kepada orang tua, sholawat, dan lain-lain. Suasana pun berubah menjadi riang dan anak-anak pun sangat antusias menjawab pertanyaan demi pertanyaan hingga 5 hadiah yang disediakan pun habis. 

Tibalah saat berbuka, anak-anak yatim, anggota KMNU,dan masyarakat sekitar berbuka bersama di masjid dengan ta’jil yang telah disediakan. Setelah itu dilanjutkan dengan shalat berjamaah magrib. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Di akhir acara, KMNU membagikan santunan kepada anak-anak yatim  yang insyaAllah santunan tersebut bermanfaat bagi mereka. Bacaan sholawat pun mengiringi anggota KMNU dan anak-anak yatim yang bersalaman sebagai tanda berakhirnya  acara  yang bertemakan “Ramadahan Berbagi” ini . Kebahagiaan pun nampak dari wajah anak-anak  yang insyaAllah masih bersih dari dosa ini. Semoga kebahagiaan ini sebagai simbol kebahagiaan yang akan kita dapat di yaumul akhir nanti, aamiin.. 

Terimakasih tak luput kami haturkan kepada para pembina KMNU yang telah mendukung acara ini baik dengan do’a maupun materi, kepada masyarakat yang ikut berpartisipasi, juga kepada seluruh anggota KMNU yang rela dan tulus menjalankan acara ini. Semoga niat tulus kita diterima dan mendapat ridho serta pahala dari Allah SWT. Aamiin yaa Robbal’aalamiin...  

Kontributor : Siti Rosidah

Rabu, 09 Juli 2014

Sebuah Pembelajaran Demokrasi

Terlepas dari hasil pemilu nanti setidaknya bangsa ini mendapatkan pembelajaran politik yang berharga. Bagaimana tidak, hampir tidak ada kasus keributan signifikan karena proses pemilu ini. Apresiasi musti diberikan utamanya kepada rakyat Indonesia yang telah melalui proses demokrasi ini dengan baik.

Bolehlah kita sebut maraknya kampanye hitam (black campaign) yang saya rasa menjadi bumbu tak sedap dalam proses demokrasi kita. Mengapa? Bagi saya menguliti kesalahan orang di masa lalu atau mempertanyakan kualitas agama seseorang bukanlah bagian dari budaya arif bangsa kita. Black campaign marak dalam proses politik di negeri lain, bukan merupakan akar sejarah bangsa ini. Sangat disayangkan bahwa sebagian orang menggunakannya dalam rangka mencapai tujuan kekuasaan.

Terlebih sebagai seorang muslim, menyebarkan berita tentang keburukan seseorang, bilamana benar adalah ghibah bilamana salah adalah fitnah, jelas bukanlah sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Disadari atau tidak sedikit banyak kita telah meniru cara berpolitik yang tidak hanya bukan merupakan ciri khas bangsa tetapi juga melenceng dari ajaran Rasulullah SAW. Saya merindukan masyarakat Indonesia yang toleran, saling menghormati perbedaan, santun, adil dan objektif dalam menilai sesuatu. Adakah semua itu pernah dan akan menjadi nyata? Atau itu hanya bahan ajaran yang tertulis dalam buku-buku mapel PPKn yang diajarkan dari SD sampai kuliah?

Apapun hasilnya nanti, siapapun pemimpinnya, beban amanah seluruh rakyat, entah itu pemilihnya atau bukan, akan diletakkan di pundaknya. Mampukah pemimpin baru itu mengemban amanah 250 juta jiwa bangsa Indonesia? Tiada manusia satu pun yang sanggup memikul beban itu sendirian. Maka sudah sepantasnya kita sebagai rakyat, mengawal proses demokrasi ini, mendukung pemimpin kita bila apa yang hendak ia kerjakan itu memberi lebih banyak manfaat dan memberikan masukan dan peringatan sekiranya ia melenceng dari amanahnya. Maka dengan mengucap lafal بسم الله الرحمن الرحيم mari kita sambut pemimpin kita yang baru nantinya. Selamat untuk bangsa Indonesia,.

Kontributor : Firdaus Hamdani

 
Hadirilah Kegiatan Rutinan KMNU IPB "Untuk Umum" Pengajian Kitab Kuning setiap jum'at 19.00 di Node AGH Lantai 2 dan Pembacaan Sholawat Maulid Ad-Dibai setiap Sabtu malam Ba'da Isya Di Mushola Al Ikhlas DR, Hub: Slamet (085697568465), Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk mengikuti Majelis Ilmu dan Sholawat, Amiin.