KMNU IPB

Bangkitlah NU Ku, Hijaulah Kampus Ku, Sejahterahlah Bangsa Ku

Majlis Sholawat Maulid Ad-Diba'i KMNU IPB

Majlis Sholawat Maulid Ad-Diba'i merupakan kegitan rutinan "untuk UMUM" setiap sabtu malam yang diadakan setelah sholat Isya' di Musholla Al-Ikhlas dan khusus sabtu malam diawal bulan diadakan di Masjid Al-Wustho Babakan Tengah. Cp : Ersyad (085641055065)

Tim Hadroh KMNU IPB

Tim Hadroh ini dibentuk sebagai rasa cinta untuk bershalawat atas baginda Rosul SAW dan melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah yang mulai terkikis. untuk itu Tim Hadroh KMNU IPB dapat diundang dan tampil untuk memeriahkan disetiap kegiatan keagamaan maupun non-keagamaan baik pengajian maupun seminar dilingkunga IPB dan Bogor. Cp: Hasan (085740955532)

Wasiat K.H.R As'ad Syamsul Arifin

Mari kita berpegang teguh kepada para ulama dan melakukan apa yang diwasiatkan

Syair Cinta Tanah Air (Mars Syubbanul Wathan)

Syair penggugah semangat untuk berjuang dan cinta Tanah Air

Rabu, 08 Oktober 2014

Berkurban, antara ritual dan solusi masalah sosial



Terkisahkan kepada kita, bahwa sejak jaman bapak seluruh manusia (Nabi Adam as) telah terjadi peristiwa yang melibatkan ritual berkurban atau sesaji. Siapa yang melakukan ritual tersebut? Dan siapa yang menghendaki atau yang menginginkan diberi sesaji waktu itu? Tersebut dalam Qur’an Surat Al Maaidah ayat 27 yang artinya “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".

Kemudian dilanjutkan dengan kisah Bapak para Nabi, Ibrahim a.s bersama anaknya (Nabi Ismail a.s) yang terkisah dalam Qur’an Surat Ash Shaaffaat ayat 102-107 yang artinya: "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (102) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (103) Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, (104) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (105) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (106) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107).

Hingga pada masa kenabian Rosulullah Muhammad SAW tersurat dalam Qur’an Surat Al Kautsar ayat 1-3: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus" (3).

Kurban atau sesaji merupakan bentuk peribadatan yang metodenya sangat sakral dan bersifat pemujaan dengan syarat-syarat tertentu. Kedua putra Nabi Adam a.s bersaing menyajikan kurban dari hasil bumi dan ternak mereka kepada Yang Maha Kuasa. Hasilnya, sesaji terbaiklah yang diterima. Kemudian Nabi Ismail a.s dan Bapaknya yang telah benar-benar teruji kesabaran dan kecintaannya kepada Rabb Semesta Alam, diberikan ganti dalam bentuk fisik berupa “hewan sembelihan yang besar”. Dan kemudian diperintahkan kepada Rosulullah SAW dan umatnya untuk bersesaji.
Dari ketiga konteks perintah bersesaji sangat bersifat pemujaan, lalu bagaimana bisa menjadi solusi masalah sosial?. Disinilah keistimewaan sesaji (berkurban) menurut ajaran Islam. Meski bersesaji itu diniatkan karena Allah SWT, namun dagingnya tentu bukan untuk-Nya. Allah tidak butuh daging sembelihan, Allah (hanya) butuh bukti kecintaan dan kerelaan berkorban akan sesuatu pinjaman yang manusia genggam sementara kepada Robb nya. Daging sesaji itulah yang dapat menjadi solusi bagi masalah (kemiskinan) umat. Dengan pembagian hasil kurban kepada golongan masyarakat yang pantas mendapatkan, maka seluruh umat Islam seharusnya bisa benar-benar bergembira merayakan Hari Raya Idhul Adha nya. 

Namun, jika pemahaman akan merelakan sesuatu yang terbaik untuk kemaslahatan sesama hanya bersifat sekali dalam setahun saja, maka tak akan pernah tercapai solusi masalah yang benar-benar bisa mengatasi akan kemiskinan di tengah-tengah umat Islam.

Maka perlu adanya sebuah kesadaran dan refleksi dalam diri masing-masing kita untuk mengejawantahkan semampunya kita sebagai generasi umat Islam dalam berupaya berkorban dan bermanfaat bagi sesama dan alam sekitar kita. Tak harus selalu dan melulu bersesaji dengan hewan kurban, kita juga dapat melakukan berbagai macam hal untuk sesama. Atau mari kita renungkan sejenak untuk refleksi makna berkorban dari kedua orang tua kita. Salah satu bukti nyata yang terjadi adalah bahwa mereka telah banyak berkorban harta, waktu, dan tenaga serta daya pikiran untuk kita, anaknya.

Kontributor : Eko P

Selasa, 07 Oktober 2014

Nahdlatul Wathan

Kondisi penjajahan yang semakin menyengsarakan rakyat membuat semua elemen masyarakat yang sadar dan memiliki keberanian mulai bangkit untuk melakukan perlawanan. Sekembalinya dari belajar dari Tanah Suci Mekkah tahun 1914. Kiai Wahab Chasbullah prihatin melihat kondisi bangsanya yang terbelakang karena terjajah. Sejalan dengan pergolakan kesadaran bangsa Indonesia, untuk itu dua tahun kemudian 1916 beliau berusaha membangkitkan mereka dengan membentuk organisasi pergerakan yang diberi nama Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan) untuk menggembleng para pemuda agar menjadi pembela Islam dan pembela tanah air yang tangguh. Ternyata organisasi yang dirintis itu sangat menggugah minat masyarakat, karena saat itu masyarakat sedang menunggu datangnya sang pemimpin, sang pembebas. Ibarat pujuk dicinta, ulama tiba, maka datanglah Kiai Wahab seorang ulama yang dicintai itu memimpin mereka.
Tidak lama kemudian didirikan cabang Nahdlatul Wathan di berbagai tempat. Agar tidak kelihatan mencolok yang bisa memancing kecurigaan Belanda maka cabang-cabang Nahdlatul Wathon itu dinamakan sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Diwokromo diberi nama Ahlul Wathon (Warga Bangsa), di Gresik diberi nama Far’ul Wathon (Elemen Bangsa), di Jombang diberi nama Hidayatul Wathon (Pencerah Bangsa), di Malang diberi nama Far’ul Wathon, di Pacarkeliling diberi nama Khithabatul Wathon (Pembela Bangsa), dijagalahn diberi nama Hidayatul Wathon, dan di Semarang diberi nama Akhul Wathon (Solidaritas Bangsa). Tidak lama kemudian organisasi itu berdiri diseluruh kota Jawa dan Madura. Kesadaran berbangsa dan militansi yang dibangun ini memberikan pijakan saat bangsa ini menegaskan kesepakatan bersama tercetus dalam Sumpah Pemuda dana dalam melaksanakan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, guna memperjuangkan kemerdekaan nasional.
Dengan semangat zaman kebangkitan nasioanal mereka militant membela tanah air Indonesia. Dari situ kemudian K.H. Wahab Hasbullah menciptakan sebuah syair heroik yang yang kemudian menjadi lagu atau Mars Nahdlatul Wathan yang dinyanyikan setiap hendak mula kegiatan. Syair itu kemudian diubah formatnya menjadi Piagam Nahdlatul Wathan.

 PIAGAM NAHDLATUL WATHAN
Wahai bangsaku, cinta tanah air adalah bagian dari iman, cintailah tanah air ini wahai bangsaku. Jangan kalian menjadi orang terjajah, sungguh kesempurnaan itu harus dibuktikan dengan perbuatan. Bukanlah kesempurnaan itu hanya haya berupa ucapan, jangan hanya pandai berbicara.

Dunia ini bukan tempat untuk menetap, tetapi hanya tempat untuk berlabuh. Berbuatlah sesuai dengan perintah-Nya. Kalian tidahk tahu orang yang memutarbalikkan dan kalian tidak mengerti apa yang berubah dimana akhir perjalanan dan bagaimanapun akhir kejadian. Adakah mereka memberi minum juga pada ternakmu. Atau mereka membebaskan kamu dari beban, atau malah membiarkan tertimbun beban.

Wahai bangsaku yang berpikir jernih dan halus perasaan kobarkan semangat dan jangan jadi pembosan.

Soerabaia 1916


Sabtu, 27 September 2014

Peran Mahasiswa Bagi Masyarakat


Ada berbagai banyak kegiatan yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa termasuk berkontribusi kepada masyarakat khususnya lingkungan sekitar kampus. Sebagai mahasiswa kita bisa berperan baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap masyarakat hal tersebut sering diistilahkan dengan kegiatan pengabdian. Terlepas dari alasan apapun yang mendorong mahasiswa melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini akan sangat bermanfaat baik kepada si pelaku pengabdian ataupun kepada masyarakat yang menjadi sasaran kegiatan tersebut. Selain menjadi ajang belajar mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di kampus, ajang berkarya, dan ajang pengembangan minat dan bakat, manfaat kegiatan pengabdian adalah akan menjadi bekal atau pengalaman yang sangat berharga ketika nanti memasuki dunia kerja. Jangan lupa, kegiatan pengabdian merupakan salah satu bentuk hal positif yang bisa kita lakukan sebagai wujud pengabdian atau ibadah kita kepada Allah SWT. Pengabdian adalah salah satu jalan atau sarana mahasiswa agar bisa bermanfaat atau berbuat kebaikan kepada orang lain. Allah SWT berfirman Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya“ (QS. Al-An’am : 160). So.. Apakah kamu sudah melakukan pengabdian? Apa yang sudah kita sumbangkan kepada masyarakat?
Pada dasarnya semua hal positif yang kita kerjakan adalah bentuk dari pengabdian. Jadi seharusnya tidak susah untuk kita melakukan sebuah pengabdian. Pengabdian bisa dilakukan oleh individu atau kelompok. Apapun hal positif yang bisa kita berikan kepada masyarakat kecil atau besar, sedikit atau banyak itu adalah wujud dari pengabdian. Mulailah dari hal yang kecil, sederhana dan lakukan dilingkungan sekitar kita. Dasari dengan niat yang tulus dan ikhlas karena sesuai sabda Rasulullah SAW “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya”. Niat pengabdian yang paling sederhana adalah niat untuk belajar. Niat ini akan lebih meringankan dan memudahkan kita dalam menjalankan sebuah pengabdian. Niatkan juga pengabdian kita dengan ibadah kepada Alla SWT. Yakinlan Allah akan melipatgandakan kebaikan yang telah kita lakukan.
Ayo mulai pengabdian ..
Salam
    

Kontributor : Adi Purnama






 
Hadirilah Kegiatan Rutinan KMNU IPB "Untuk Umum" Pengajian Kitab Kuning setiap jum'at 19.00 di Node AGH Lantai 2 dan Pembacaan Sholawat Maulid Ad-Dibai setiap Sabtu malam Ba'da Isya Di Mushola Al Ikhlas DR, Hub: Slamet (085697568465), Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk mengikuti Majelis Ilmu dan Sholawat, Amiin.